Oleh : Muhammad Samdani*

Apa sih si pengguncang dunia itu?

2020 adalah langkah awal bagi ketakutan manusia.  Yang katanya si ketakutan itu berasal dari negeri tirai bambu. Ya, tetapnya Wuhan, (Republik Rakyat Cina). Siapa gerangan disekarang ini yang belum mengetahui ketakutan itu. Sudah jelaslah semua pribumi mana pun bahkan sampai keplosok manapun lantas mengetahui apa sebenarnya ketakutan itu.

Covid-19 namanya. Sebuah Virus yang sampai sekarang menjadi unek-unek pribumi di dunia. Bagai jelangkung mitos dari negara kita. Datang tak diundang pulang minta diantar. Namun penjelajahannya dibelentaran bumi ini sudah sangat luas. Sehingga menjadi salah satu momok menakutkan bagi manusia. Bukan hal yang sepele namun berkali-kali lebih bertele-tele dari menakutkan yang sebenarnya. Kenapa bisa begitu, momok menakutkan itu terjadi karena sebab virus ini mengandung perihal korban. Dimana ada kalanya suatu saat ketika manusia tak menghiraukan lingkungan sekitar maka dengan kontak fisik akan tercebur ikut kedalam jurang dalam virus ini. Kata simplenya adalah terjangkit. Dan apabila terjangkit maka ada kemungkinan akan kehilangan nyawa. Dan dari situlah momok menakutkan itu lahir.

Penyebarannya sangat cepat. Penyebabnya tidak begitu tepat. Ada istilah berdauh, “Siapa cepat ia dapat.” dimana siapa yang tidak berhati-hati maka akan tersesat dan  ikut dalam kedahsyatan yang kemungkinan kecil akan selamat.

Asal mula covid-19 di tanah air

Dua warga negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Depok diketahui positif mengidap virus SARS Cov-2. Ini merupakan kasus pertama yang ditemukan di Indonesia. Kedua pengidap Covid-19 itu memiliki riwayat berinteraksi dengan WN Jepang yang diketahui lebih dulu menderita penyakit tersebut. 

Kedua WNI itu, menurut Menkes Terawan Agus Putranto, terpapar virus berbahaya itu dari Warga Negara (WN) Jepang yang tinggal di Malaysia. Dijelaskannya, WN Jepang itu sempat melakukan perjalanan ke Indonesia.

“Sekembalinya ke Malaysia, setelah beberapa hari sakit, maka dicek di sana, karena kena monitor. Dikatakan Covid-19 positif. Pemerintah Malaysia pun menghubungi kita,” tuturnya.

Sesuai rencana, Terawan mengatakan, kedua pasien positif virus mutan Corona itu akan diisolasi selama 14 hari dan dilakukan cek ulang. Seiring itu, Menkes meminta masyarakat tidak panik.

Terkait upaya mencegah penyebaran dan menekan angka penularan Covid-19, World Health Organisation (WHO) bekerja sama dengan sejumlah organisasi kemanusiaan dunia, di antaranya dengan UNICEF, Federasi Palang Merah, dan Bulan Sabit Merah Internasional, kini tengah mengencarkan upaya untuk mencegah munculnya stigma.

Pada Selasa (25/2/2020), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta agar warga dunia senantiasa mengedepankan semangat “solidaritas, bukan stigma” terkait hal seputar Covid -19. Perlawanan terhadap stigma tersebut dinilai penting, menurut Tedros, demi meminimalisir ketakutan orang. Sebab akibat didera ketakutan, dikhawatirkan orang akan menyembunyikan penyakit, tidak segera mencari perawatan kesehatan, dan mencegah mereka mengadopsi perilaku sehat.

Dampak negatif dari munculnya stigma sosial dikhawatirkan tidak hanya berpengaruh terhadap mereka yang menderita penyakit, tapi juga keluarga, teman, dan komunitas. Bahkan, orang yang tidak terinfeksi penyakit, tetapi berbagi karakteristik lain dengan kelompok itu, juga dapat menderita akibat stigma tersebut.

Dilansir dari liputan6.com Indonesia sudah melebihi ekspektasi dari pemerintah dimana yang terpapar covid-19 hingga sampai hari ini mencapai 180.646. itu bukan sekedar lelucon belaka bukan. Jadi sudah sepatutnya covid-19  menjadi momok menakutkan bagi pribumi dunia.

Selayaknya manusia, Covid-19 sudah terambang diatas normal. Dimana bukan suatu hal yang sulit lagi manusia akan ikut terpapar mengiringi sukmanya. Sebaliknya, Covid-19 begitu mudah menerobos masuk ketubuh manusia dengan keteledoran manusia itu tersendiri.

Sebenarnya virus ini bukan hal yang menakutkan dan juga bukan hal yang menyeramkan. Namun itu kembali kepada kehidupan nyata pribumi itu tersendiri. Apabila tidak ingin terperosok maka taatilah apa yang sudah diatur oleh pemerintah. Bukan malah membantah. Bayangkan Sudah sekitar lima bulan lebih tanah air kita digerogoti yang namanya pandemi covid-19. Apakah itu masih kurang. Nah, mulai dari sinilah kita berpikir ulang bagaimana cara mencegah penularannya. Bukan malah bagaimana cara menjauhinya

Jadi inilah trendsetter yang mendunia. Bukan untuk ditakuti atau dijauhi, melainkan untuk dirubah atau revitalisasi yang baru. Kita manusia sudah sewajarnya jadi makhluk bumi yang paling berharga. Bukan makhluk yang tidak berdaya.

*Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Cabang IPM Bi-ih

Editor: Pebriyandi