Kehidupan selalu melahirkan berbagai dinamika dan polemik didalamnya sehingga menjadikan diri kita melebur dalam kegamangan untuk menentukan jalan hidup, konflik batin dan pergulatan pembenaran dalam diri menjadi acuan atas dilema bagi kehidupan manusia.

Agama kemudian hadir memberikan kenyamanan atas jaminan yang ditawarkan, melahirkan kepercayaan yang membuat diri manusia menjadi tenang dan kuat dalam menghadapi berbagai gelombang masalah.

Agama sebagai sistem Tuhan untuk memudahkan manusia agar berhenti pada kecemasan dan berpindah kepada kepercayaan total. Kepercayaan ini dinamakan sebagai iman yang menjadi spirit manusia untuk mencetak jalur hidupnya sendiri. Karl Marx sendiri merasa bahwa kepercayaan total ini bisa berakibat candu pada manusia sehingga berbagai persoalan hanyalah dihadapi dengan senyuman dan optimistik tingkat tinggi tanpa memperdulikan kondisi dirinya dan kepasrahan tanpa ikhtiar, dalam bahasa agama sering dikaitkan dengan konsep tawakal, walaupun secara konseptual sangat berbeda semangat orientasinya.

Baca Juga: Nabi Muhammad saw. Tidak Pernah Mendirikan Negara Islam

Kecanduan adalah gejala kehancuran atau kesalahpahaman manusia atas agama sehingga manusia menjadi apatis untuk melawan, atau tidak ada kemauan untuk bergerak melakukan tindakan dan proaktif dalam mengawal perubahan. Agama harusnya menjadi modal penting umat manusia sebagai alasan utama untuk memberikan cara pandang baru dan kehidupan yang lebih etis dan manusiawi.

Agama sendiri bermacam-macam warnanya tergantung anda memilih atas dasar suka atau memang warna itu sudah ditentukan pada orang tua anda. Warna-warni dalam beragama bukan berarti ketidakberesan Tuhan dalam memberikan jalan kemudahan bagi manusia, bukan berarti juga cara untuk merepotkan manusia dalam mencapai kebenaran hakikat.

Keberadaan agama-agama ini adalah hasil diskursus panjang dan dialektika yang asik antara Tuhan dan manusia sebagai proses pencarian kebenaran Tuhan ataupun sebagai bentuk kebesaran Tuhan terhadap dzat-Nya.

Perjalanan manusia dengan agama juga sangat menarik yang mana ketika manusia sangat fanatik dengan agamanya menggambarkan mitologi yang unik dengan berbagai tokoh menarik, kemudian beralih bagaimana agama mendorong manusia agar lebih berpikir bebas dan mendorong adanya kemajuan aksi manusia dalam pentas sejarah dunia.

Tidak sampai disitu, kemudian manusia kembali memandang agama sesuatu yang buruk, sesuatu yang menjadikan manusia tidak bisa berkembang sesuai dengan semangat zamannya, sehingga agama tidak diperlukan dalam ruang lingkup sosial, tapi hanyalah ruang-ruang pribadi saja. Pada saat dimana kemudian agama menjadi kepemilikan sendiri dan paradigmanya berubah ke arah bisnis.

Agama tidak berperan kembali dalam menciptakan ruang peradaban, tapi lebih kepada personalitas kepribadian seseorang. Saya pikir paradigma ini sangat mereduksi kehadiran agama, dan kontribusi agama tidak selaras dengan maksud kehadiran agama.

Salah satu persepsi yang lahir akibat paradigma beragama yang individual atau egosentris tentu mirip dengan transaksi bisnis, jadi bagaimana dia mencari untung atau mendapatkan keuntungan dengan apa yang telah mereka berikan, transaksi manusia dan Tuhan ini melekat kuat dalam pusaran pemikiran umat Islam pada umumnya dan dilegitimasi dengan berbagai aktivitas keagamaan atau fatwa kiai maupun ustadz. Persepsi ini disebabkan pemahaman mendasar bagaimana mereka dalam beragama atau berinteraksi dengan Tuhan.

Setidaknya ada tiga macam manusia berinteraksi dengan Tuhannya berdasarkan motif dan orientasinya. Tingkatan pertama yang terendah yaitu manusia yang berinteraksi dengan Tuhannya ataupun beribadah berdasarkan rasa takut dengan ancaman siksaan. Beribadah pada tingkatan ini seperti layaknya seseorang pembisnis yang takut dengan kerugian dan tidak mendapat untung, tujuan beragamanya adalah mendapatkan pahala dan surga sebagai representatif keberuntungan seorang manusia. Tingkatan ini bukan berarti salah, karena manusia wajar memiliki rasa takut akan segala siksaan yang digambarkan dalam al-Qur’an. Pahala dan surga juga merupakan sebuah kenikmatan yang penting untuk diraih dan hal yang patut disyukuri serta diharapkan.

Tetapi, apakah surga dan pahala tersebut menjadi tujuan kita dalam beragama. Adapun bahaya dari persepsi ini akan berimplikasi cepatnya muncul rasa kecewa ketika merasa banyak beribadah tetapi sedikit rezeki yang didapat justru menimbulkan sikap kekufuran dan enggan bersyukur. Hal ini dikarenakan selalu menghubung-hubungkan amal ibadah dengan rezeki, pahala, serta surga yang harus didapat.

Pada tingkatan berikutnya yang lebih tinggi bahwa manusia memahami dalam interaksi dan ibadahnya kepada Tuhan sebagai bentuk mentaati perintah-Nya dikarenakan ada kewajiban untuk melaksanakannya. Pada tingkatan ini tidak lagi dalam kerangka bisnis untuk mencari keuntungan dan menghitung-hitung pahala yang diperoleh, tapi bagaimana menyadari secara total akan maha kuasa dan kebesaran Allah sebagai Tuhan bagi seluruh makhluk menjadikan kita sebagai manusia patut untuk segera melaksanakan apa yang telah diperintahkan. Layaknya seorang bos di kantor kita maka pastinya ada rasa segan dan bersegera melaksanakan apa yang disuruh oleh dia selaku bos.

Kemudian tingkatan yang terakhir bahwa beribadah atau interaksi manusia kepada Tuhan sebagai bentuk wujud cintanya terhadap sang pencipta. Rasa kecintaan ini melebur dalam setiap ibadahnya hanya mengejar dan bertujuan mendapatkan keridhoan atau cinta balik dari Tuhannya. Rasa cinta yang begitu mendalam tidak lagi memperhitungkan apa yang telah dilakukan dan berapa yang sudah didapat, tetapi asik dalam suasana cinta dan terus hanyut untuk mengingat-Nya.

Editor : Muhammad Yahya

Baca Juga: Ibnu Batuttah: Penjelajah Muslim Termasyhur