Oleh:M.Ramadhansyah

Para ulama adalah pewaris Nabi. Sedangkan nabi-nabi Allah tidaklah mewariskan dinar dan dirham, bukan emas, dan bukan pula perak. Warisan itu adalah ilmu dan bersamanya ada tanggung jawab besar. Salah satu sifat mustahil para Nabi adalah kitman, menyembunyikan kebenaran. Maka demikian pulalah para ulama. Kebenaran akan senantiasa mereka ucapkan, tentu dengan dibingkai dengan adab yang luhur.

Adab tentu bukan hanya persoalan sopan santun, tapi ketajaman ilmu akan hakihat, sehingga segala sesuatu diletakkan pada tempatnya yang pas. Itulah hikmah, itulah keadilan. Maka simaklah adab seorang imam mulia, al-Imam an-Nawawi di hadapan penguasa pada masanya.

Biograpi Singkat Imam Nawawi

Tidak ada kaum muslimin yang tidak pernah mendengar nama ‘Imam Nawawi’. Bagaimana tidak? Rasanya tidak ada satu rumah kaum muslimin pun yang tidak memiliki kitab yang ditulisnya, ‘RidyâdhusShâlihîn’, sebagai kitab pegangan keluarga muslim untuk panduan seputar etika sehari-hari. Kitab hadis ‘al-`Arbain’-nya, sudah dihafal oleh tidak terhitung banyaknya pelajar muslim selama berabad-abad.

Imam Nawawi Yahya bin Syaraf bin Hasan al-Nawawi, lahir pada tahun 631 H di kota Nawa, Suriah. Pada tahun 649 H beliau pindah ke Damaskus. Beliau ‘mondok’ di Madrasah al-Rawahiyah untuk melanjutkan perjalanan keilmuannya setelah sebelumnya menyelesaikan hafalan al-Quran. (al-Bidâyah wa al-Nihâyah 17/540 & Tadzkiratu’l Huffâzh 4/1470). Sisa hidup selanjutnya, sampai beliau wafat pada usia 45 tahun (676 H), adalah kisah-kisah soal militansi belajar, produktifitas karya dan heroisme membela kebenaran..

Bisa dibilang, karya-karya Imam Nawawi adalah masterpiece atau adikarya dalam berbagai bidang keilmuan. Dalam bidang hadis, beliau menulis Syarah Shahih Muslim yang terkenal. Perlu diketahui, men-syarah kitab hadis tidak hanya soal memaknai maksud kata atau kalimat dari sebuah teks hadis kemudian menyimpulkan hukum dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Lebih dari itu, khusus Shahih Muslim misalnya, memahami Mukadimah-nya saja sudah menuntut kematangan dalam berbagai cabang ilmu mustolah hadis. Karena melalui Mukadimah tersebut, Imam Muslim (261 H) memaparkan kaidah-kaidah periwayatan hadis yang nanti menjadi bibit ilmu mustolah hadis. Ini jauh sebelum al-Ramahurmuzi (360 H) menulis ‘Al-Muhaddits al-Fâshil’ yang dianggap sebagai kitab ilmu mustolah hadis pertama.

Mensyarah sahih muslim berarti memecahkan persolan yang terdapat dalam sanadnya, mengurai kerumitan bahasa matannya, sampai mendiskusikan perbedaan para ulama dalam menyimpulkan hukum dari hadisnya.

Imam Nawawi sebelum membuka syarahnya menyebutkan sanad beliau sendiri yang belajar sampai khatam dan meriwayatkan Shahih Muslim dari guru beliau, Syekh Abu Ishaq Ibrahim bin Umar al-Wasithi dari para guru beliau bersambung kepada Imam Muslim. Sanad ini memiliki dua keunikan: Pertama, sanad ini terdiri dari ulama daerah Nishapur, bersambung kepada Imam Muslim yang juga berasal dari Nishapur juga. Kedua, para ulama tersebut dikenal panjang umurnya (di atas 100 tahun).

Imam Nawawi dan Penguasa Baibars

Imam Nawawi adalah salah satu juris terbesar mazhab Syafi’i, tapi kitab-kitab karangannya dibaca luas melintasi mazhabnya. Sebagai seorang fukaha, beliau selalu menekanan pentingnya prinsip ketaatan kepada pemegang kekuasaan. Tentu dengan syarat mereka tidak mengajak pada maksiat.

Hal ini salah satunya tampak di dalam kitab beliau yang masyhur, yakni Riyadhus Shalihin. Dimana beliau memberikan satu judul bab berbunyi, “Wajib taat terhadap pemimpin kaum muslimin selain dalam hal maksiat dan haram taat pada mereka dalam hal maksiat” sembari memaparkan hadis ini;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ »

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Bagi setiap muslim, wajib taat dan mendengar kepada pemimpin (penguasa) kaum muslimin dalam hal yang disukai maupun hal yang tidak disukai (dibenci) kecuali jika diperintahkan dalam maksiat. Jika diperintahkan dalam hal maksiat, maka tidak boleh menerima perintah tersebut dan tidak boleh taat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salah satu momen yang dicatat sejarah dimana sang Imam menunjukan kepada kita syarah hadis di atas dalam perbuatannya adalah ketika Sultan Zhahir Baibars meminta fatwanya. Baibars adalah salah satu pemimpin kesultanan Mamluk yang berkuasa di Syam dan sekitarnya pada masa hidup Imam Nawawi. Ia sedang memimpin pasukan Muslimin dalam upaya menghalau gelombang invasi Tatar yang terbukti telah meluluh lantakkan banyak kota di dunia Islam ketika itu.

Dalam rangka memenuhi logistik perang, Baibars berinisiatif mengumpulkan harta alias patungan dari rakyat. Padahal ketika itu rakyat sedang dihimpit kemarau panjang yang menggagalkan pertanian dan peternakan.

Untuk melegitimasi kebijakannya ini, Baibars telah meminta fatwa kepada beberapa ulama. Mereka telah memberikannya, kecuali Imam Nawawi. Repotnya, jika Imam Nawawi belum mengeluarkan fatwa, maka otoritas ulama lainnya menjadi sedikit berkurang. Untuk itulah Baibars sangat berambisi mendapatkan fatwa afirmatif dari sang Imam.

Namun ambisi tersebut harus kandas sebab ternyata Imam Nawawi enggan membrikannya begitu saja. Beliau justru memberikan alternatif pendanaan yang akhirnya membuat Baibars murka dan mengusirnya dari Syam.

Imam Nawawi menyatakan bahwa Baibars boleh saja menarik harta dari rakyat yang sedang sengsara jika saja sumber-sumber lainnya sudah mampet.  Masalahnya, masih ada sumber lain yang lebih potensial.

Imam Nawawi menunujukan fakta bahwa Baibar memiliki seribu pengawal dan budak-budak yang kemana-mana selalu memakai aksesoris mewah, pakaian bertabur emas, perak, dan permata.

Imam Nawawi meminta Zahir Baibars menggunakan harta itu dahulu untuk membiayai perang, jika ternyata semua itu belum cukup, maka apa boleh buat, silakan mintalah pada rakyat. Ternyata nasehat Imam Nawawi itu tidak diindahkan oleh Baibars. Ia malah marah dan mengusir sang imam dari Damaskus. Beliaupun pergi dari kota tersebut dan kembali ke kampung halamannya di Nawa.

Itulah Imam Nawawi, seorang ulama yang kata dan lakunya selalu sejalan. Seorang ulama yang keberpihakannya pada yang lemah selalu jelas. Bahkan jika ia harus diusir oleh penguasa. Kita juga bisa memahami bahwa meminta ‘patungan’ pada rakyat, atau memotong hak-hak mereka dalam rangka menghadapi suatu krisis boleh-boleh saja.

Namun penguasa perlu melihat-lihat dahulu ke sekelilingnya. Jika pembantu-pembantunya, pejabat-pejabatnya, masih bermewah-mewahan dengan fasilitas VIP, gaji melimpah, maka hal itu adalah bentuk kezaliman. Mereka harus memberikan contoh terlebih dahulu dengan mengorbankan fasilitas-fasilitas mereka. Dengan memotong gaji mereka sendiri.