Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i (14 Agustus 1165-16 November 1240) atau lebih dikenal sebagai Ibn Arabi adalah seorang sufi terkenal dalam perkembangan tasawuf di dunia Islam.

Ibn Arabi dikenal sebagai tokoh yang kontroversial. Beberapa ulama telah menjatuhkan vonis kafir kepada dia. Ibnu Arabi sangat dikenal dengan konsep Wahdatul Wujud, sebuah paham yang lumayan kontroversial. Ia mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari-Nya. Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan, atau berasal dari wujud ilahiah. Manusia yang paling sempurna adalah perwujudan penampakan diri Tuhan yang paling sempurna, menurutnya. ia juga seorang tokoh politik yang tidak pernah diperhitungkan keberadaannya dalam sejarah.

KATEGORI MANUSIA MENURUT IBN ARABI

Ihsan kamil merupakan bentuk manifestasi manusia diberi oleh Allah suatu kedudukan sebagai khalifah karena ia adalah “perpaduan” (jam’iyyah) atau paduan (majmu) semua nama Tuhan dan semua realitas alam. Manusia mempunyai sifat-sifat ketuhanan dan sifat-sifat kemakhlukan. “maka aspek lahir manusia adalah makhluk dan aspek batinya adalah Tuhan”.

Kesempurnaan manusia bukan terletak pada kekuatan akal dan pikiran (an-nuthq) yang dimilikinya, melainkan pada kesempurnaan dirinya sebagai lokus penjelmaan diri (tajalli) Tuhan.

Baca Juga: https://al-ashr.id/abu-dzar-al-ghifari-sosok-sahabat-yang-radikal-dan-revolusioner/

Manusia Binatang (al-Insan al-Hayawan) Manusia binatang memiliki sifat persis seperti sifat semua binatang. Ia berbeda dengan binatang-binatang lain hanya dalam differentia yang merupakan sifatnya, seperti perbedaan antara sebagian binatang dengan sebagian lainya dalam differentia.

“Hamba Tuhan”  ‘arif; jiwa dan kalbunya suci, bebas dari hawa nafsu dan ikatan badaniah; berada dalam “formasi ukhrawi” (an-nasy’ah al-ukhrawiyah); mengetahui Allah dengan penyingkapan intuitif (kasyf) dan rasa (dzawq), bukan dengan akal (‘aql).

“Hamba Nalar”, orang yang terikat kepada badan dan hawa nafsunya; berada dalam “formasi duniawi” (an-nasy’ah ad-dunyawiyah); mengetahui Tuhan dengan nalar pikiran, menundukan Tuhan dibawah hukum nalar. Ia adalah abdi akal, bukan abdi Rabb.

MANUSIA SEBAGAI INSAN KAMIL

Di antara wujud yang ada, hanya manusialah yang dapat menampung seluruh hakekat di dalam dirinya. Sebab, dirinya merupakan manifestasi dari nama Allah swt dan nama Allah swt terkandung seluruh nama-nama di dalam diri-Nya.

Hakikat insan kamil berada dalam seluruh tingkatan manifestasi, mulai dari alam materi, alam mitsal, alam akal, maqam wahidiyah dan bahkan sampai pada maqam ahadiyah. Namun hanya Rasulullah saw beserta para washi-nya yang mampu sampai pada maqam ahadiyah.

Baca Juga: https://al-ashr.id/al-ghazali-hikmah-penciptaan-semesta/

Terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran Nur Muhammad. Menurutnya, tahapan-tahapan kejadian proses penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu Dzat yang mandiri dan tidak berhajat pada apapun.
  2. Wujud Hakikat Muhammad sebagai emanasi (pelimpahan) pertama dari wujud Tuhan kemudian muncullah segala yang wujud dengan proses tahapan-tatahapannya.

Dengan demikan, Ibn Arabi menolak ajaran yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari tiada. Ia mengatakan bahwa Nur Muhammad itu qadim dan merupakan sumber emanasi dengan berbagai kesempurnaan ilmiah dan amaliah yang terealisasikan pada diri para nabi semenjak Adam sampai Muhammad dan terealisasikan dari Muhammad pada diri para pengikutnya, kalangan para wali, dan insan kamil.

Redaksi Al-ashr.id

editor: Al bawi