Oleh: Ahmad Tsaaqib

Mamuju Tengah, merupakan sebuah daerah yang masih tahap perintisan dalam mengelola dan mengembangkan kota. Saya banyak mendapat pengalaman selama dikota ini khususnya tentang sekolah alam Salule’bo dan kisah seorang perempuan Muallaf yang menggugah hati saya dan mungkin semua orang yang mendengarnya. Dua kisah menarik saya dapatkan dalam satu moment ketika bersama-sama dengan teman seperjuangan disini untuk mengantarkan bantuan kepada Aisyah yaitu seorang perempuan yang baru masuk Islam di daerah Batu Rede.

Kami memulai perjalanan dengan kondisi jalan yang jelek hanya dengan tanah yang berlumpur akibat musim hujan. Perjalanan cukup jauh menempuh waktu sekitar 30 menit dengan semua kendala yang ada. Sampai ditempat sekolah alam yang mana disana Aisyah belajar, kami langsung menemui pendiri sekolah alam tersebut bernama Aco’ Muliadi dengan postur lumayan tinggi dan rambut gondrong, tetapi beliau sangat murah senyum.

Kami masuk kedalam dan duduk bersama teman-teman IMM dari kota lain yang sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) disana dan Aco’ Muliadi, serta anak-anak yang sekolah disana. Kemudian tidak lama Aisyah masuk menyusul kedalam ruangan dengan karakter yang pemalu sambil menundukkan pandangan. Dia ditemani oleh Tiara Usman yang juga masuk Islam pada tahun 2018 kemarin, dia juga merupakan teman akrabnya Aisyah.

Setelah dipersilahkan oleh Aco’ Muliadi untuk menceritakan bagaimana proses dia masuk kedalam agama Islam yang diwakilkan oleh temannya Tiara. Tiara mulai bercerita ketika mereka berdua berada disuatu daerah Salule’bo yang jauh diatas dan harus melewati sungai untuk bisa menembus ke kota. Disanalah mereka berdua memulai ceritanya ketika Aisyah bertanya tentang Islam, dan selalu dijawab oleh Tiara sehingga Aisyah tertarik untuk masuk Islam. Tetapi, persoalannya bahwa di daerah tersebut tidak ada imam yang bisa membimbing dia untuk masuk Islam, sehingga mereka harus turun dengan jarak yang jauh dan memiliki modal sangat sedikit.

Mereka mulai mengumpulkan uang bekerja dilahan coklat seorang warga dengan mendapatkan hasil sejumlah 250.000 rupiah. Uang itu digunakan untuk ikut tumpangan ke pusat kota. Maka untuk bisa mendapatkan tumpangan tersebut mereka berdua berjalan kaki sejauh 20 km. Kemudian sampai di tujuan mereka langsung menuju seorang imam yang kebetulan adik dari Aco’ Muliadi tadi. Setelah di Islamkan mereka berdua terus belajar di sekolah alam baik itu pelajaran agama maupun pelajaran umum agar membimbing dia menjadi lebih baik. Aisyah di usia yang muda yaitu 18 tahun sudah memiliki seorang anak sehingga disamping belajar dia harus mencari pekerjaan untuk bisa memberikan makan kepada anaknya. Perjuangan Aisyah tersebut membuat semua teman-teman tergugah dan terinspirasi bagaimana dia begitu kuat untuk menempuh perjalanan yang sulit dan kondisi hidup yang tidak mudah hanya ingin mendapatkan keimanan yang benar baginya.

Cerita itu membuat kami kembali sadar bahwa keimanan kami jauh dari kata sempurna dibandingkan apa yang dialami oleh Aisyah. Cerita tadi membuat kedua teman saya memberikan sebuah nasehat dan semangat sebagai bentuk ketertarikan mereka terhadap ceritanya. Saya pribadi sangat bersyukur melihat secara jelas moment itu sebagai kode Tuhan kepada saya agar lebih bersyukur. Tetapi, saya juga tertarik ingin mendengar cerita tentang sekolah alam tersebut yang sempat kami diskusikan sebelum Aisyah datang.

Sekolah alam ini berdiri dilatar belakangi oleh sosok Aco’ Muliadi yang berperan luar biasa bagi masyarakat Salule’bo. Pada bulan Januari 2005 yang pada saat itu kondisinya masih hutan sekali, beliau langsung menggelar diskusi bersama masyarakat dengan tujuan pembebasan lahan yang dikuasai oleh para pejabat oligarki lokal. Uniknya sekolah ini bukan suatu cita-cita maupun target beliau tapi berdiri karena kebutuhan masyarakat, padahal fokusan beliau waktu itu hanya persoalan agraria. Tetapi, beliau melihat anak-anak yang banyak tidak sekolah dan beliau bertanya kepada salah satu warga terkait faktor kenapa anak disini banyak yang tidak sekolah. Jawabannya jelas bahwa sekolahnya sangat jauh dan tidak mungkin anak-anak bisa sekolah disana, lebih baik membantu orangtua begitulah paradigma masyarakat sana.

Aco’ Muliadi mulai mengajak masyarakat untuk mengumpulkan semua anak-anak disana untuk diajarkan apapun dalam rangka belajar. Pada dasarnya daerah tersebut memiliki masalah yang sangat kompleks yaitu mulai dari persoalan agraria, pendidikan, bahkan kesehatan. Pada akhirnya sekolah itupun tergusur setelah lama berdiri disana dan banyak membantu masyarakat sana, pergusuran ini diakibatkan oleh provokasi dari pihak pemerintah kepada masyarakat dalam rangka ingin membangun bendungan yang secara potensial membahayakan masyarakat.

Mereka akhirnya tergusur kedaerah Batu Rede dan bisa bertemu dengan kami. Ketika saya tanya apa basis pembelajaran di sekolah ini, jawaban beliau unik yaitu segala sesuatu kebaikan yang bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Walaupun jawabannya filosofis tetapi saya sendiri memahami bahwa beliau berlawanan dengan sistem pendidikan nasional kita saat ini. Beliau ingin menunjukkan kritik dan sekaligus solusi pembelajaran yang lebih relevan dengan spirit Ki Hajar Dewantara selaku bapak pendidikan nasional. Maka dari itu, sekolah alam tidak memiliki kurikulum, absensi, gaji guru, serta semua persoalan administrasi lainnya.

Banyak sekali kepala sekolah dan guru yang lebih sibuk pada persoalan administrasi sekolah dibandingkan bagaimana hasil dari proses pembelajaran. Saya pernah duduk beberapa dengan kepala sekolah dan yang saya dengar mereka hanya berbicara dana BOS berapa yang masuk bukan berbicara prestasi siswa, evaluasi pembelajaran, apalagi bicara tentang problematika pendidikan nasional kita. Pepatah mengatakan jauh panggang dari api, begitulah realitas yang ada sehingga wajar jika taraf pendidikan kita belum maju karena pemainnya sendiri yang berada di garda depan justru tidak peduli.

Bertolak belakang dengan prinsip sekolah alam yang dibangun oleh Aco’ Muliadi tersebut. Semangat belajar begitu hidup pada siswanya, begitu juga dengan menyatunya mereka dengan alam sehingga kepedulian mereka terhadap alam seperti kepedulian mereka terhadap dirinya sendiri. anak-anak merupakan generasi emas yang akan menentang dan melawan segala kebijakan dan tindakan eksploitasi alam, yang biasa dilakukan oleh para pemangku jabatan dinegeri kita sendiri. kita kecewa dan itu faktanya, bahwa istilah good government hanyalah utopia belaka, hanya puing-puing mimpi yang tidak bisa terilhami dalam realitas kehidupan dan tatanan sosial kita.

Beberapa point menarik yang bisa saya ambil dari adanya sekolah alam tersebut sekaligus membedakan dengan sekolah alam lain yang menurut saya tidak sesuai dengan prinsip environmental ethics dan substansi berdirinya sekolah tersebut. Terkadang sekolah alam hanyalah konsep yang terlihat pro terhadap alam, tetapi secara pembalajaran dan sistem sekolah jauh bertentangan dengan alam. Apakah hanya dengan membuat taman dan tumbuh-tumbuhan sudah bisa dikatakan pro terhadap alam. Tentu tidak, kebanyakan alam hanya dijadikan objek estetik saja tetapi hak hidup alam sendiri dimusnahkan, hak mereka dibunuh kemudian mereka ingin bernostalgia dengan keindahan alam sehingga mereka membuat manipulasi alam sesuai dengan nafsunya sendiri.

Selain itu, biasanya sekolah alam hanya karena tempat mereka tidak hanya dikelas tapi juga diruang terbuka, hal ini juga tidak bisa serta-merta dikatakan sebagai sekolah alam. Karena substansinya adalah sekolah alam itu belajar dari alam, oleh alam, dan untuk alam. Mengajarkan siswa diruang terbuka tetapi tidak menimbulkan kesadaran akan menjaga alam, atau justru mengedepankan sikap pragmatis dan hedonis menunjukkan kegagalan pada konsep alam tersebut.

Salah satu point menarik dari sekolah alam Salule’bo yaitu pada nilai-nilai pluralisme yang penuh dengan toleransi keberagamaan. Sebagai orang yang pro terhadap nilai toleransi dan pluralisme saya sangat bahagia adanya konsep belajar seperti ini. Nilai-nilai itu tergambar dalam dialog agama antar siswa yang berbeda agama, dialognya pun sangat sehat tidak mengedepankan nafsu dan emosi keagamaan tetapi menggunakan nalar pikir dan mencoba mencari titik temu. Terkadang dialog tersebut ditengahi oleh Aco’ Muliadi agar pembahasannya tetap pada jalur toleransi.

Kemudian tidak hanya itu saja, fasilitas kitab suci dari agama-agama lain juga disediakan sehingga spirit kebebasan beragama begitu terlihat dan kebersamaan yang indah. Disamping itu, sekolah alam ini juga memiliki fasilitas ibadah dengan satu ruang yang bisa dipakai oleh semua siswanya dari berbagai agama seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan yang lainnya. Suasana sekolah alam ini menjadi tauladan bagi kita semua, karena mereka bisa menunjukkan bhineka tunggal ika itu benar-benar hidup ditengah kita. Mereka membuktikan bahwa agama adalah jalan rahmat dan keselamatan yang penuh kasih sayang. Namun, berbeda jika kita lihat kondisi bangsa kita saat ini yang sering sekali lebih cenderung mengedepankan ego dan nafsu beragamanya ketimbang iman yang dalam pada Tuhan penuh kasih sayang.

Oleh karena itu, sekolah alam sudah membuktikan bahwa mereka bisa mengubah nasib pendidikan kita untuk lebih baik, tetapi sayang mereka selalu dihalangi oleh para perusak alam (oligarki kekuasaan) sehingga siapapun dan dimanapun kita mari nilai dan prinsip sekolah alam tersebut kita implementasikan demi kemaslahatan dimasa depan sebagai bukti kita telah berusaha sempurna dalam beragama. Aco’ Muliadi pernah berkata sebagai penutup dari kisah ini, yaitu “sejatinya tidak ada kekakuan dalam beragama, kami melahirkan Kristiani yang kaffah, umat Hindu yang kaffah, serta Muslim yang kaffah”.

Editor : Ghoffar