Oleh : Ahmad Nauri*

Sejarah kemanusian sebagai proses perkembangan akal budi dan moral telah dihiasi dengan sejumlah nama yang telah memberikan sumbangan besar terhadap peradaban dan kebudayaan umat manusia. Ada banyak para tokoh intelektual terkemuka dari masa lampau yang mana gagasannya telah meninggalkan bekas yang mendalam pada alam pikiran dan kelembagaan umat manusia hingga sekarang.

Seperti Isaac Newton dengan bidang Fisika, Tolstoy dengan Kesusastraan serta Moontesqiu dengan Ilmu Politik dengan nyatanya sudah tidak asing bagi masyarakat terpelajar. Tetapi dengan penegecualian pada lingkungan kecil yang terbatas, pengenalan tersebut pada umumnya hanya selintas dan ada beberapa alasan yang bisa disebut sebagai penyebabnya, diantaranya kendala penguasaaan Bahasa atau terbatasnya buku-buku yang membicarakan peradaban manusia.

Mendekati Descartes-.

Descartes terlambat mulai berkarya sementara masa produktifnyapun sangat singkat.  dalam tahun 1628 ketika berusia 32 tahun ia mulai mencurahkan seluruh perhatiannya melakuakn penelitian di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan lama. Namun dengan keterlambatan berkarya tesebut tidak menjadikan beban dan permasalahan bagi hidup Descaretes itu senidiri melainkan tidak memiliki nilai dalam sebuah kehidupan tersebut. 

Dalam kurun perjalanannya dikenal dengan “Cogito ergo sum” (Saya Berpikir karena itu saya ada). Secuwil penalaran ini merupakan asas pertamanya dalam metafisika atau filsafat yaitu denga teorinya mengenai apa yang harus diketahui agar sains yang eksak dan mantap itu benar-benar dimungkinkan. Teori yang dikemukakan oleh beliau terlalu sulit diperikan namun secara umum pengaruh dalam dunia filsafat mendalam sampai sekarang ini. 

Tidaklah diketahui orang apa yang dilihat Descartes di siang bolong ini dalam catatan pribadi tentang mimpinya tercerai berai dan begaya Bahasa begitu tinggi sehingga hampir tidak mungkin dibuat sebuah tafsiran yang andal. Toh sangat mungkinlah bahwa yang mulai menjadi terang baginya adalah kesatuan sederetan Panjang sains dibawah itu semua dianggap berbeda dan terpisah dengan yang lain. Deretan itu mencakup empat sains yang secara tradisional ditaruh dengan judul Quadrum yaitu ilmu hitung, ilmu ukur, musi dan astronomi.    

Dalam regulae Descartes menyatakan bahwa orang akan menemukan “rahasia utama” metodenya bila orang itu akhirnya tahu bahwa semua hal dapat ditata menurut beliau dan bahwa dalam tiap deretan terdapat suatu kemajuan dari hal yang kemutlakannya paling tinggi ke hal yang kemutlaknya paling rendah”.

Idenya adalah bahwa tiap “problem” yang kebenaran atau kepalsuannya memang dapat ditetapkan menyangkut hal-hal yang majemuk  yang kodratnya merupakan gabungan dari hal yang sederhana atau lebih mudah dipahami. Mengidentifikasi hal-hal yang sederhana itu berarti memberikan hal majemuk contohnya dalam suatu perbendaharaan kata yang sama sekali umum hanya menyarikan ciri-ciri kuantitatif. 

Dalam teori yang membicarakan tentang Descartes itu sendiri bagi saya kurang persuasif meskipun demikan menarik perhatian sebagaimana wahana teori gagasan (ide) Descartes tersebut. Dalam istilah Cogito Ergo Sum  jika dikaitkan dengan konsep imajinasi maka tidak dapat membantu untuk menggambarkan istilah tersebut akan tetapi bahwa kita dapat membentuk suatu konsepsi mengenai penalaran dengan cara lain sehingga kita dapat membentuk asas kausal pertama dalam istilahnya.

Asal kausal ini menyiratkan antara lain bahwa kategori sumber suatu gagasan dapat berbeda dari kategori benda yang diwakili oleh idea atau dengan perkataan lain bahwa bisa terdapat penyimpangan yang bermakna antara isi gagasan dan penyebabnya dalam realistis. 

Descartes tidak pernah Menyusun semua pernyataannya mengenai gagasan dalam satu buku atau mengemukakan sebuah pertanyaan sehingga suatu teori gagasan nanti akan dapat menjawab. Sebelum adanya Descartes, para filsuf berpendapat bahwa manusia dikarunia indera maupun intelek dan bahwa pengalaman indera membawa intelek bersentuhan dengan zat-zat yang merupakan topik sains. 

Maka dengan adanya Descartes dalam perkembangan dunia filsafat kita sebagai kaum pembelajar harus memiliki suatu pikiran tidak lain hanyalah kapasitas intelektual murni dan kemampuan untuk melakukan kehendak yang dilibatkan dalam rasionalitas. Dengan adanya unsur-unsur pemahaman yang paling umum maka tidaklah hanya mensyaratkan kapasitas diri lebih lanjut dengan mengidentifikasi pikiran sebagai pemilik diri kita sendiri.

*Ketua Umum PC IMM Kab. Banjar

Editor : Muhammad Yahya