Oleh : Rahmat

Peranan kesusastraan dalam kehidupan masyarakat tidak jarang dipertanyakan, terutama saat negara sibuk dengan pembangunan ekonomi. Namun disatu sisi, para penguasa hanya menganggap sastrawan sebagai pemberontak, mengkritik pemerintah dengan rangkaian kata yang indah sehingga dapat mengancam kehidupan politukus busuk. Dalam lingkup masyrakat awampun sastra hanya dianggap sebagai bumbu-bumbu yang menambah cita rasa ketika berbicara. Padahal sebenarnya peran sastra dalam masyarakat sangatlah penting bahkan negara bisa lahir karena sastra. Hal ini senada dengan perkataan Jhon F.Kennedy, presiden Amerika Serikat yang legendaris, beliau berkata “jika kekuasaan membawa orang pada arogansi, maka puisi mengingatkan kita pada keterbatasan manusia. Jika kekuasaan mempersempit kepedulian kita, puisi mengingatkan manusia akan kaya dan beragamnya eksistensi manusia. Jika kekuasan kotor, puisi membersihkannya”. Di mata Kennedy, puisi dan sastra adalah bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pengimbang bahkan anti-toksin bagi penguasa dan kekuasaan.

Indonesia dan Sastra

Seorang filsuf islam Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Negara justru lahir dari tangan para sastrawan. Secara metaforis, bagi bangsa-bangasa pada umumnya, ungkapan Muhamad Iqbal tersebut benar. Namun, bagi bangsa-bangsa terjajah khususnya indonesia, pernyataan Iqbal bahkan benar secara faktual. Lahirnya sastra Indonesia tidak lepas dari gejolak sosial-politik. Konsep indonesia sebagai negara telah dirancang jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan yaitu pada tanggal 28 oktober  1928 atau lebih dikenal dengan “Sumpah Pemuda”. Jika kita melihat isi dari sumpah pemuda dengan susunan kata yang indah, jelas bahwa sumpah pemuda adalah deklarasi politik dalam bentuk puisi. Sumpah pemuda adalah konsep indonesia yang dikonsep oleh Muhammad Yamin. Tentu saja perumusan konsep tersebut tidak lahir begitu saja dan tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, namun semua itu butuh proses yang panjang berupa perenungan . Sumpah pemuda bermula pada puisi yang berjudul “Tanah Air”(1920)  karya Muhamad Yamin, yang kemudian berubah menjadi konsep Indonesia sebagai Tanah Air dalam puisi “Indonesia Tumpah Darahku” (1928) yang ditulis oleh Muhamad Yamin dua hari sebelum pembacaan sumpah pemuda. Dari segi historis, lahirnya kesusastraan di Indonesia bukan hanya sekedar berasal dari rangkaian kata yang berbunga-bunga, melainkan dari kecamuk pemikiran yang disebabkan oleh keinginan agar indonesia bebas dari tangan penjajah. Jadi jelas adanya, keberadaan sastra di Indonesia sangatlah penting, sebab kelahiran Indonesia tidak lain adalah dari sebuah puisi yang ditulis secara bersama-sana oleh kaum muda Indonesia yang sekarang kita kenal dengan sebutan Sumpah Pemuda. Namun, dewasa ini keberadaan sastra sudah terancam punah. Indonesia cenderung durhaka terhadap puisi sebagai  ibu kandung yang melahirkan bangsa indinesia yaitu sumpah pemuda. Para sastrawan ditangkap, komika diteror karena ketakutan para politikus busuk akan lengesernya mereka di kemudian hari. Memisahkan sastra dengan indonesia adalah  memisahkan ibu kandung dan anak kandung. Bisa dipastikan apabila kedurhakaan itu terus berkelanjutan, bukan tidak mungkin nasib indonesia akan sengsara layaknya seorang anak yang durhaka pada ibunya. Para sastrawan tidak lagi diperkenalkan di media-media indonesia baik cetak maupun elektronik. Media massa hanya memberitakan para selebriti, mengupas semua kehidupan dari A sampai Z, tanpa sadar itu adalah bagian dari menjauhkan sastra dari masyarakat indonesia. Sangat jarang bangsa indonesia diperkenalkan dengan sosok yang betul-betul berprestasi dan mengabdikan diri pada bidang-bidang ilmu seperti penelitian, budaya dan lain sebagainya. Sastra di Indonesia telah dianggap sebagai anak tiri, padahal jika kita melihat kebelakang, ketika indonesia hampir hancur ditangan politisi kotor, rezim otoriter, disitulah para sastrawan berdiri tegak melawan kekerdilan berpikir para politisi, menyuarakan keadilan bahkan sampai ditangkap dan diasingkan dituduh sebagai pemberontak negara.

Lahirnya  bahasa persatuan

Indonesia adalah negara yang multikutltural. Di dalamnya terdapat berbagai macam etnik, dengan keindahan bahasanya, beratus-ratus bahasa. Namun semua semua bahasa tersebut disatukan oleh satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Bagaimana jadinya jika tidak ada satu bahasa untuk menyatukan kedua belah pihak?, tentunya akan menimbulkan kesalahpahaman karena tidak saling mengetahui satu sama lain. Negara Kesatuan republik indonesia adalah sebuah gambaran jati diri yang dimiliki oleh indonesia yaitu berbeda-beda tetap satu. Semua itu tidak lepas dari peranan sastra puisi yang dikonsep oleh Muhamad Yamin yaitu sumpah pemuda. Bahasa Indonesia adalah penyelamat dari besarnya potensi konflik yang disebabkan oleh keberagaman bahasa. Tentunya akan timbul pertanyaan kenapa bahasa indonesia dijadikan sebagai bahasa kesatuan, dan siapa dalang dibalik itu?

Secara genealogis, teks sumpah pemuda dapat ditelusuri asal-muasalnya pada puisi Muhammad Yamin yang berjudul “Tanah Air” (1920), “Bahasa,Bangsa” (Februari 1921), dan “Tanah Air” (9 Desember 1922).  Pada mulanya, puisi Muhammad Yamin hanya mengangkat tema kedaerahan sebagai kekagumannya terhadap alam dan tanah kelahirannya yaitu sumatera. Namun tema tersebut meluas skalanya menjadi nasional kebangsaan karena kesadaran akan pentingnya satu bahasa persatuan bagi sebuah bangsa. Sehingga dari situlah ia menempatkan puisi tidak hanya sekedar alat untuk mengekspresikan perasaan pribadinya, melainkan juga ekspresi gagasannya sebagai warga negara. Tanah air, dalam puisinya “Tanah Air” (1920) semula diartikan sebagai tanah kelahiran dalam arti sempit (minangkabau-sumatera), kemudian diperluas lagi maknanya pada puisi dengan judul yang sama pada tahun yang berbeda yaitu “Tanah Air” (9 Desember 1922) meluas pada kawasan Nusantara dan Indonesia sebagai sebuah wilayah milik bangsa indonesia. Dari situlah timbul kesadaran dalam diri Muhammad Yamin bahwa pentingnya bangsa itu punya bahasa sebagai alat perekat penduduknya. Pada tahun 1921, Muhammad Yamin Juga menuliskan Puisi yang berjudul “Bahasa,Bangsa” yang menegaskan hubungan antara bangsa dan bahasa. Meskipun dalam puisi tersebut yang dimaksud bangsa adalah Tanah Sumatera, dan bahasa adalah bahasa melayu, Muhammad Yamin berkeyakinan bahwa suatu saat bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pemersatu Indonesia sebagaimana pidatonya dalam Kongres Pemuda Indonesia  pertama pada tahun 1926, yang dikutip oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam tulisannya yang berjudul “Bahasa Indonesia” sebagai berikut : “Bagi saya sendiri, saya meyakini bahwa bahasa melayu lambat laun akan tertunjuk sebagai bahasa pergaulan umum atau bahasa persatuan bangsa Indonesia, dan bahwa kebudayan Indonesia di masa akan datang akan terjelma dalam bahasa itu”.{33 Tokoh Sastra Indonesia paling Berpengaruh, Hal.101).  dan kemudian dilanjutkan Pada Kongres Pemuda Indonesia ke-2 pada tanggal 28 Oktober 1928, disitulah disepakati bahwa bahasa Melayu (Riau) Sebagai Bahasa Indonesia : “Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia”.

Editor: Pebriyandi