KHUTBAH IDUL ADHA 1441 H

Oleh : Muhammad Fikri

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ  نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ. وقَالَ أَيْضاً إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Hadirin, Jama’ah Shalat ‘Id Rahimakumullah.

Marilah kita bersyukur kepada Allah swt. dengan cara senantiasa mempergunakan segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita semua untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Terlebih lagi, momen Idul Adha kali ini tidak sama dengan Idul Adha sebelumnya. Jika di tahun-tahun sebelumnya kita dapat melangsungkan shalat Id dengan tenang dan tanpa ada kekhawatiran sedikit pun, namun di tahun ini semuanya berbeda. Kita sedang berada pada kondisi yang cukup menyedihkan, di tengah pandemi Covid-19. Kita sedang diuji oleh Allah, dan di tengah ujian ini akan tampak mana hamba yang betul-betul beriman kepada Allah dengan sepenuh hati dan jiwa. Dalam kondisi seperti saat ini, salah satu sikap kita sebagai hamba-Nya yang beriman adalah dengan cara bersabar dan terus berikhtiar guna mencapai derajat kemuliaan di sisi Allah swt. berupa surga. Allah swt. berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَاءُ وَٱلضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Shalawat dan salam semoga selalu kita curahkan kepada Nabi dan Rasul kita, manusia biasa yang terpelihara dari dosa, yang sejak kecil sudah ditinggal wafat oleh ayah dan ibunya, Rasulullah Muhammad saw. Tidak ada satu pun gerak-gerik dan perilaku, serta watak beliau yang dituntun oleh Allah, kecuali harus menjadi tauladan untuk kita semua. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt. dalam surah Al-Ahzab ayat 21:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Akhir dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Jama’ah shalat ‘Id yang berbahagia.

Momen Idul Adha ini tidak dapat terlepas dari tokoh utama peletak sejarah disyari’atkannya ibadah qurban. Tokoh yang -oleh para Ulama- dianggap sebagai gambaran sempurna dari seorang hamba Allah yang selalu mentaati perintah Tuhan-Nya. Tokoh utama tersebut tidak lain adalah Ibrahim ‘Alaihis Salam. Syari’at ibadah qurban merupakan salah satu syari’at yang sejarahnya dijelaskan secara detail oleh Allah swt dalam al-Qur’an. Kisah tersebut termaktub dalam surah Ash-Shaffat ayat 102-109.

Allah swt. memerintahkan Nabi Ibrahim as. melalui mimpi untuk menyembelih anak beliau. Memang tidak didapati secara tegas dalam rangkaian ayat tersebut, siapa yang diperintahkan Allah untuk disembelih. Akan tetapi, isyarat-isyarat di dalamnya secara eksplisit menunjukkan bahwa dia adalah Ismail as. Sungguh berat ujian yang dialami Nabi Ibrahim as. pada saat itu. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama menanti keturunan, lalu Allah menyampaikan kabar gembira tentang akan hadirnya anak tersebut. Tiba-tiba saja setelah anak itu tumbuh dan berkembang sebagaimana anak pada umumnya, Allah menyuruh Ibrahim untuk mengorbankannya.

Dr. Rusydi Al-Badrawy menjelaskan bahwa setelah mendapat mimpi tersebut di suatu malam, maka di pagi harinya Ibrahim as. berfikir dan merenung. Ia masih ragu, apakah mimpinya itu berasal dari Allah swt. ataukah dari syaithan. Waktu beliau merenung itu yang kelak disebut sebagai “Yaum at-Tarwiyyah” atau “Hari Tarwiyyah”.

Kemudian, pada sore hingga malam harinya, Ibrahim as. tiba pada keyakinan bahwa perintah untuk menyembelih putranya tersebut memang berasal dari Allah swt. Maka hari itu disebut dengan “Yaum Al-‘Arafah” atau “Hari Arafah”. Sehari setelahnya, Ibrahim as. kembali bermimpi sebagaimana mimpi yang beliau alami beberapa hari sebelumnya. Lantas, beliau bertekad menjalankan perintah tersebut, dan hari itu kelak disebut dengan “Yaum An-Nahr” atau “Hari Penyembelihan”.

Saat Nabi Ibrahim as. menceritakan mimpi beliau itu kepada anaknya, maka sang anak pun menjawab dengan kalimat yang sangat menenangkan dan penuh kebijaksanaan, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dari jawaban itu kita dapat menyimpulkan bahwa Ismail bukanlah seorang anak biasa. Kalimat itu seakan memberi pertanda bahwa “Ismail Kecil” mendapat bimbingan dari Allah swt. Singkat cerita, berkat keteguhan dan ketaatan Nabi Ibrahim as, maka Ismail as. pun diganti Allah swt. dengan seekor kibas yang besar, dan Nabi Ibrahim pun menyembelih kibas tersebut.

Jama’ah shalat ‘Id Rahimakumullah.

Setelah merenungi kisah di atas, barangkali kita bisa menyimpulkan bahwa Ibrahim as. memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan Nabi dan Rasul lainnya. Keistimewaan dan keagungan pribadi Ibrahim as. sangat banyak diterangkan di dalam al-Qur’an. Pertama, Ibrahim as. adalah hamba yang dipilih oleh Allah swt. menjadi Al-Khalil atau hamba yang sangat disayang, sebagaimana yang tersebut dalam surah An-Nisa ayat 125:

وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلً

“… Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).”

Mengapa gelar Khalilullah disematkan kepada Ibrahim as.? Dalam satu riwayat, Ibnu Umar r.huma menceritakan bahwa suatu ketika Nabi saw. bertanya kepada Jibril: “Wahai Jibril, mengapa Allah memilih Ibrahim as. sebagai Al-Khalil (Hamba Kesayangan)? “ Jibril pun menjawab: “Karena kegemarannya menyediakan makanan (untuk tamunya), wahai Muhammad!.

Dari penjelasan Jibril tersebut tampak jelas bahwa gelar “Al-Khalil” yang diperoleh Nabi Ibrahim as. disebabkan oleh sikap sosial yang biasa beliau jalankan. Memuliakan tamu adalah pekerjaan yang sederhana, dan biasanya cenderung tidak terlalu kita hiraukan. Padahal, justru perilaku sederhana itu yang sering memberikan dampak besar bagi seseorang. Ibrahim as. tidak hanya memperhatikan hubungannya dengan Allah swt., tetapi juga sangat memperhatikan hubungannya dengan sesama manusia. Beliau memberikan teladan kepada kita bahwa ketika hubungan kepada Allah swt. terjalin dengan baik, maka hubungan dengan sesama manusia pun harusnya menjadi baik pula. Hablun min Allah berbanding lurus dengan Hablun min An-Nas.

Jama’ah Idul Adha yang dirahmati Allah swt.

Keistimewaan kedua yang dimiliki Nabi Ibrahim as. adalah beliau merupakan individu yang diberikan Allah swt. anugerah berupa ketajaman berfikir dan beragumentasi. Oleh karena itu, beliau seringkali menyeru kaumnya kepada agama Allah dengan alasan dan argumentasi yang kuat, tetapi dengan perlakuan yang baik. Sebagaimana firman Allah swt. yang mengisahkan tentang nasihat Nabi Ibrahim as. kepada ayah beliau:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِى عَنكَ شَيْـًٔا ()  يَٰأَبَتِ إِنِّى قَدْ جَاءَنِى مِنَ ٱلْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَٱتَّبِعْنِى أَهْدِكَ صِرَٰطًا سَوِيًّا

“Wahai ayahku, mengapa anda menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat memberikan pertolongan kepadamu sedikit pun? Sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 42-43)

Dan dalam ayat yang lain disebutkan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً إِنِّى أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya (yang bernama) Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-An’am: 74)

Dari ayat-ayat tersebut kita bisa menyimpulkan betapa Nabi Ibrahim as. mempunyai keberanian, kecerdasan, dan ketajaman berfikir yang luar biasa. Bayangkan saja, seorang anak berani memberikan nasihat kepada orang tuanya sendiri. Di samping itu, nasihat tersebut juga secara tidak langsung memberikan rangsangan kepada orang yang beliau nasihati untuk berfikir secara mandiri.

Nasihat bisa datang kapan saja dan dari siapa saja, tidak terkecuali dari seorang anak kepada ayahnya sendiri. Maka tidak heran, salah satu tokoh legendaris dalam dunia pendidikan, Ki Hajar Dewantara, menjelaskan bahwa “Setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.” Maknanya adalah pendidikan atau nasihat bisa datang kapan pun, di mana pun, dan dari siapa pun. Tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin yang Berbahagia

Keistimewaan Nabi Ibrahim as. yang ketiga ialah beliau merupakan salah satu Nabi dan Rasul yang menyaksikan dan membuktikan keagungan & kekuasaan Allah swt. secara langsung atas permintaan beliau sendiri. Peristiwa tersebut tertuang dalam surah al-Baqarah ayat 260:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَهِيْمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Apakah engkau belum percaya?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman: “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu (burung itu), kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 260)

Sebagai manusia biasa yang memiliki fikiran yang tajam, tentu menjadi hal yang wajar ketika Nabi Ibrahim as. meminta pembuktian akan kuasa Allah swt., khususnya dalam menghidupkan makhluk yang sudah mati.

“Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana caranya Engkau menghidupkan makhluk yang telah mati,” pinta Ibrahim. “Apakah kamu tidak percaya kepada-Ku dan meragukan kekuasaan-Ku?” Tanya Allah.

“Tentu saya aku percaya, tapi permintaanku itu untuk sekedar meyakinkanku dan menentramkan hatiku saja,” jelas Ibrahim.

Singkat cerita, lalu Allah swt. memerintahkan Ibrahim as. untuk mengambil 4 ekor burung dan menyembelihnya. Lalu memotong kecil-kecil jasad burung tersebut dan meletakkannya secara acak di beberapa penjuru gunung. Tatkala Nabi Ibrahim as. memanggil burung-burung tersebut, mereka berdatangan dengan kondisi utuh seperti sebelum disembelih dan hidup kembali seperti sedia kala.

Apakah keraguan Nabi Ibrahim as. terhadap kuasa Allah swt. tersebut bermakna tidak percaya kepada Allah? Prof. Quraish Shihab mengutip pendapat beberapa ulama yang menjelaskan bahwa memang Nabi Ibrahim as. pada saat itu masih ragu. Hal itu dapat dilihat dari perkataannya sendiri. Namun, keraguan itu bukan bersifat ketidakpercayaan. Beliau tetap percaya bahwa Allah swt. adalah Dzat yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Nabi Ibrahim as. hanya ingin mendapatkan pembuktian untuk menghilangkan keraguan yang sedang beliau rasakan.

Jama’ah Shalat ‘Id Rahimakumullah

Keistimewaan Nabi Ibrahim as. yang terakhir ialah beliau merupakan leluhur para Nabi. Semua Nabi dan Rasul yang diutus setelahnya merupakan keturunannya. Melalui jalur Ishaq as., Allah swt. mengutus Ya’qub as., Yusuf as., Syu’aib as., Musa as., Harun as., Ilyas as., Dawud as., Sulaiman as., Zakariya as., Yahya as., dan Isa as. Sedangkan dari jalur keturunan Ismail as., Allah swt. mengutus penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Rasulullah Muhammad saw. Oleh sebab itulah Nabi Ibrahim as. mendapat julukan Abul Anbiya’ atau Bapaknya Para Nabi.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah

Di akhir khutbah ini, marilah kita menundukkan hati dan kepala kita, sembari memohon dan berdoa kepada Allah agar kita senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah untuk meneladani Sang Kekasih Allah swt., Ibrahim as. Di samping itu, semoga segala musibah dan kesulitan ini cepat berlalu, dan diganti dengan keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah yang tak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.”

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Editor : Pebriyandi