oleh : Asman

Dunia Pendidikan saat ini, telah banyak melewati berbagai problematika perkembangan zaman. Diera para tokoh Pendidikan, banyak melahirkan berbagai manusia yang mumpuni diberbagai bidang sebut saja Ir. Soekarno, Muh. Hatta, Gusdur, BJ. Habibi dan banyak lagi. Para tokoh tersebut berhasil menjadi orang hebat disebabkan Pendidikan yang mumpuni, dan dilakukan secara sungguh-sungguh. 

Ditambahlagi pendidik yang benar-benar mendidik yang di topang oleh kualitas yang mumpuni. Zaman itu bisa dikatakan jauh dari perkembangan teknologi yang seperti kita rasakan saat ini. Namun bisa menghasilkan manusia, yang memikirkan perkembangan bangsa kita melalui Pendidikan sehingga menghasilkan sebuah teknologi tinggi yang digunakan generasi saat ini.

Tentunya apa yang dirasakan generasi kita saat ini, merupakan produk Pendidikan yang sudah termanifestasikan ke dalam sebuah tatanan kehidupan yang disebut era modern, dengan ditandainya kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan umat manusia di segala lini kehidupan. Dengan pemikiran sains modern, Pendidikan tidak lagi berbicara soalan bagaimana menjadi cerdas, memiliki ahklak yang baik (moral) tapi bagaimana dari Pendidikan itu bisa menghasilkan produk yang bisa bernilai profit untuk kepentingan pribadi. 

Pemikiran para saintis, mengubah seluruh cara pandang kehidupan, tak terekcuali dengan dunia Pendidikan. Para filsuf barat, seperti Rene Descarter, Isac Newton dan yang lainnya telah mengawali perkembangan pemikiran sains modern (Latif, 2020). Fritjhof Capra dalam Latif lebih lanjut mengatakan kedua orang tersebut telah memberikan sumbangsi pemikiran bagi dunia sains modern, yang sampai hari ini pemikiran mereka menajdi rujukan secara tidak langsung. 

Di era post truth atau dimana kebenaran sulit dibedakan dengan kebohongan kini masuk dalam dunia Pendidikan kita saat ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Badarsyah alih-alih kebenaran yang telah di dapatkan melalui Pendidikan dihancurkan oleh post truth, kebenaran ditempatkan pada tempat penganiyayaan secara brutal (Bandarsyah, 2019). Hal demikian tentunya di dasari dengan realitas yang terjadi saat ini. 

Penyebaran pengetahuan atau konsep teori yang di populerkan oleh para cendekiawan tidak semasif dulu dan tidak seautentik dulu. Dengan perkembangan teknologi materi ataupun bahan ajar dalam sebuah Pendidikan bisa dengan mudah didapatkan pada flatfrom media, yang itu juga kadang tidak memiliki sumber yang jelas. Budi F Hardiman menyebut hal ini dengan pergeseran homo sapiens menjadi homo digitalis. 

Ketergantungan terhadap dunia teknologi, menjadikan Pendidikan saat ini, kehilangan arah dan tujuan yang sesuguhnya. Alih-alih membentuk peserta didik yang sesuai dengan tujuan UU Sisdikanas Nomor 20 tahun 2003, dan sesuai dengan falsafah agama. justru melahirkan peserta didik yang premature secara keilmuan. Di era post truth seperti yang dikatakan oleh Prof. Heddy Shri Ahimsa seorang guru besar di UGM saat menyampaikan kuliah mengenai “paradigma profetik”persoalan yang mendera dunia Pendidikan kita ialah paham teologi (nilai ketuhanan/agama) tidak mengakar terhadap dunia Pendidikan kita/perguruan tinggi. Hal demikian lebih lanjut ia katakana karena Pendidikan kita menganut paham positivistic yang dimana kebenaran sains menjadi kebenaran mutlak. Artinya Pendidikan yang selama ini dilakukan itu beorientasi kepada keduniaan, sehingga membuat suatu teori di berikan kepada peserta didik walaupun itu bohong, namun digunakan untuk memotivasi guna perkembangan peserta didik, maka itu dibenarkan. 

Sejatinya Pendidikan ialah, merubah cara pandang dari yang salah ke yang benar. Dari tidak bermoral menjadi bermoral. Justru yang memperparah di kalangan orang-orang terdidik dan orang Pendidikan masih termakan dengan isu hoax, yang itu juga di berikan kepada peserta didik untuk dikonsumsi sebagai bagian dari pengetahuan. Setidaknya untuk mencegah era post truth ini mandarah daging kepada seluruh komponen Pendidikan maka hal utama yang dilakukan ialah:

  1. Perkaya literasi

Melek literasi dianggap mampu memberikan efek perubahan terhadap suatu objek dalam kehidupan. Begitupun dengan Pendidikan. Peserta didik dan guru harus meningkatkan literasi sebagai upaya meminimalisir beredarnya kebohongan yang dianggap kebenaran di lingkungan Pendidikan. Karena logika sederhananya ialah, jika Pendidikan tercemar dengan informasi bohong, yang mana Pendidikan ialah dipercaya sebagai komponen perubah pola pikir yang tertinggal, maka yakin bahwa semua akan ikut tercemar. Hal ini sangat sederhana, namun efeknya akan selalu berimbas. Misalkan saja dalam sebuah perhelatan pemilu, tak jarang antar saling pendukung terjadi gesekan yang memakan korban, bahkan tak jurang juga para pendukung itu banyak ornag berpendidikan. Karena sudah termakan dengan berita hoax atau bohong maka orang terdidik itupun ikut larut dalam kejadian tersebut. 

Maka solusi yang dianggap tepat ialah dengan melek literasi, baik media maupun non media yang sifatnya memberikan informasi yang jelas dan benar. Hal demikian seperti apa yang dikatakan oleh Yudi Latif bahwa industry hoax berkembang sangat pesat pada masyarakat yang budaya literasi bacanya rendah. Hal demikian juga diperkuat bahwa budaya literasi bangsa kita sangat rendah dengan penelitian Most Littered Nation In The World 2018, yang menjelaskan minat baca orang Indonesia sangat rendah dengan menduduki peringkat 60 dari 61 negara (Mu’ammar, 2020). Hal ini di sebabkan perkembangan teknologi yang tidak terbendung lagi, sehingga Sutan SJahrir perna meresahkan hal demikian dengan melihat perkembangan zaman yang semakin kompleks. 

Diera post truth banyaknya orang terdidik tidak memberikan jaminan bahwa ia mampu selektif dalam memberikan infoemasi, apalagi informasi itu di masukan dalam materi pengajaran dalam dunia Pendidikan. Bagi orang terdidik yang memiliki minat baca literasi yang tinggi, ia akan sangat selektif terhadap informasi yang ia dapatkan, begitupun sebaliknya. Sehingga melek literasi di era post truth ini sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan yang kebenaran tidak lagi menjadi hal mutlak untuk di ikuti.

  1. Kembali ke intisari sejarah

Sejarah merupakan bagian dari peneguhan pola pikir dalam era ini. Seperti penjelasan di atas, bukan hanya dunia Pendidikan yang tercemar dengan kebohongan era ini, melainkan seluruh lapisan kehidupan social ikut tercemar. Kembali memahami bagian-bagian sejarah terkait suatu objek kajian akan membantu dalam pemahaman kebenaran yang sesungguhnya. Bandarsyah (2019) mengatakan pemahaman kearah sejarah membantu pendidikan meneutup celah post truth tidak leluasa mengobrakabrik kebenaran yang sesugguhnya. Sehingga Mukani (2016) dalam bukunya “dinamika pendidikan Islam” mengatakan sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang memiliki hubungan erat kepada masa sekarang. Artinya apa yang terjadi saat ini, itu masih rentetatn akibat dari sejarah yang ada.

Lebih lanjut ia mengatakan, pendidikan orang muslim banyak belajar dari kolonialisme, yang ilmunya sampai saat ini masih digunakan. Namun sayang, karena pemahaman atas segala intisari sejarah membuat pendidikan di hajar oleh era post truth. Bahkan kebenaran sejara itu sendiripun sering di putarbalikkan faktanya. Namun Bandarsyah percaya bahwa dengan kembali kepada pemurnian atas sejarah, atau semua orang harus memahami sejarah dengan rinci agar menjadi penguatan dalam pendidikan. Setidaknya dua poin penting dan urgen untuk dikerjakan. Dalam era post truth ini, kembali ke khittah awal kehidupan akan sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

*Asal kota Konawe Utara, Sulawesi Tenggara saat ini sedang terdaftar sebagai mahasiswa aktif Pasca Sarjana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta