Oleh: Al bawi*

Ibnu Miskawaih adalah salah seorang cendekiawan Muslim yang berkonsentrasi pada bidang filsafat akhlak. Dia lahir di Iran pada tahun 330 H/932 M dan meninggal tahun 421 H/1030 M. Ibnu Miskawaih melewatkan seluruh masa hidupnya pada masa kekhalifahan Abassiyyah yang berlangsung selama 524 tahun, yaitu dari tahun 132 sampai 654 H /750-1258 M. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Maskawaih.

Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filsuf akhlak daripada sebagai cendekiawan muslim yang ahli dalam bidang kedokteran, ketuhanan, maupun agama. Dia adalah orang yang paling berjasa dalam mengkaji akhlak secara ilmiah. Bahkan pada masa dinasti Buwaihi, dia diangkat menjadi sekretaris dan pustakawan. Dulu sebelum masuk Islam, Ibnu Miskawaih adalah seorang pemeluk agama Magi, yakni percaya kepada bintang-bintang.

Tujuan Pendidikan Akhlak

Terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya semua perbuatan bernilai baik, sehingga mencapai kesempurnaan jiwa dan memperoleh kebahagiaansempurna (al-Sa’adah).

Baca Juga : https://al-ashr.id/membaca-membuat-bergerak-dan-tercerahkan/

Al-Saadah dimulai dari al-Khayr (kebaikan). Al-Khayr adalah alSyai’ al Nafi’ (sesuatu yang bernilai). Al-Khayr merupakan af’al al-ilahiyyat (perbuatan manusia yang bersifat ketuhanan). Kebaikan yang paripurna adalah Sa’adah. Kebaikan paripurna: 1) Yang sifatnya emosional/rasa (mahsusat), 2) Yang sifatnya rasional (ma’qulat).

Al-Sa’adat Al-Kamil

BERKUMPULNYA 5 HAL BERIKUT:

  1. Kesehatan Fisik
  2. Kepemilikan Harta
  3. Reputasi / kehormatan di kalangan terhormat
  4. Sukses dalam berbagai bidang kehidupan
  5. Lurus dalam berpikir, sehat dalam keyakinan.

Baca Juga : https://al-ashr.id/kemunduran-peradaban-islam/

Tiga Unsur Manusia

Selanjutnya adalah pemikiran Ibnu Miskawaih tentang manusia. Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang manusia tidak jauh berbeda dengan para filosof lain. Menurutnya di dalam diri manusia terdapat tiga daya, yakni daya nafsu (al-nafs al-bahimiyyat) sebagai daya paling rendah, daya berani (al-nafs al-sabu’iyyat) sebagai daya pertengahan, dan daya berpikir (al-nafs al-nathiqah)sebagai daya tertinggi. Dia sering menggabungkan aspek-aspek Plato, Aristoteles, Phytagoras, Galen, dan pemikir lain yang telah dipengaruhi filosofi Yunani. Namun ini bukanlah suatu penjarahan budaya,melainkan usaha kreatif menggunakan pendekatan-pendekatan berbeda ini untuk menjelaskan masalah-masalah penting. ketiga unsur tersebut iyalah:

  • JASAD—Unsur Materi
  • HAYAD—Unsur Ruhani sebagai natur jasad sebagai daya gerak dan berfungsi bagi tumbuh dan berkembangnya badan.
  • RUH—Unsur Ruhani yang berasal dari Tuhan yang datang setelah janin berumur empat bulan.

*Pegiat Al-ashr.id

Editor: Redaksi Al-Ashr.id