Nama lengkapnya Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah Syed
Muhammad Naquib Ibn Ali Ibn Abdullah Muhsin al-Attas (dalam penulisan
jurnal ini penulis sebut Syed al-Attas), lahir di Jawa Barat, tepatnya di Bogor
tanggal 05 September 1931. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah al-Attas,
sedangkan ibunya bernama Syarifah Raquan Al-‘Aydarus, keturunan ningrat
Sunda di Sukapura, Jawa Barat.

Silsilah keluarganya bisa dilacak hingga ribuan tahun ke belakang melalui silsilah Sayyid dalam keluarga Ba’Alawi di Hadramaut dengan silsilah yang sampai kepada Hussein yaitu cucu Nabi Muhammad Saw. Diantara leluhurnya ada yang menjadi wali atau ulama, salah seorang dari mereka adalah Syed Muhammad al-Aydarus (dari pihak ibu), guru dan pembimbing ruhani Syed Abû Hafs Umar ba Syaiban dari Hadramaut, yang mengantarkan Nur ad-Din ar-Rânîrî, salah seorang alim ulama terkemuka di dunia Melayu (Aceh), ke tarekat Rifa’iyah.

Syed al-Attas merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dimana yang
sulung bernama Syed Hussein al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi
serta mantan wakil Rektor di Universitas Malaya, Kuala Lumpur-Malaysia.
Sedangkan, yang bungsu bernama Syed Zaid, seorang insinyur kimia dan
mantan dosen Institut Teknologi MARA.

Uraian di atas dapat kita ketahui bahwa latar belakang keluarga Syed alAttas bukan datang dari kelompok sosiokultural biasa, akan tetapi dari kaum
ningrat atau dalam istilah lain adalah “bibit unggul”, dalam dirinya tidak hanya
mengalir darah biru, tetapi juga semangat dan emosi keagamaan yang suci.

Mengenal Tulisan al-Attas

Syed al-Attas kembali ke Malaysia pada tahun 1965 itu juga. Termasuk
di antara sedikit orang Malaysia pertama yang memperoleh gelar Doctor of
Philosophy, Syed al-Attas dilantik menjadi Ketua Jurusan Sastra di Fakultas
Kajian Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur. Dari tahun 1968-1970, dia
dipercaya untuk memegang jabatan Dekan Fakultas Sastra di kampus yang
sama. Di sini, ia berusaha memperbaharui struktur akademis fakultas dan
mengharuskan setiap jurusan menyusun rencana dan mengurus aktifitas
akademiknya dengan berkonsultasi pada jurusan-jurusan lain yang sefakultas,
sehingga mereka tidak berjalan sendiri-sendiri.

Baca Juga : RASIONAL IMAN? EPISTEMOLOGI KERAGUAN DESCARTES

Di Malaysia posisi dan peranan Syed al-Attas sebagai seorang pakar yang handal tidak perlu diragukan lagi. Mulai dari 1970-1984, dia dipilih menjadi Ketua Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Melayu di Universitas Kebangsaan Malaysia. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Tun Abdul Razak untuk Studi Asia Tenggara di Universitas Ohio, Amerika pada periode 1980-1982. Syed al-Attas merupakan founding father sekaligus Rektor ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) di Malaysia sejak tahun 1987.


Syed al-Attas telah menyampaikan lebih dari 400 makalah ilmiah di
negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan berbagai negara
Islam lainnya. Sebagai penghargaan atas kontribusinya yang menyeluruh
dalam pemikiran Islam kontemporer, pada tahun 1993, Dato Seri Anwar
Ibrahim dalam kapasitasnya sebagai Presiden ISTAC dan Presiden Universitas
Islam Malaysia Internasional (International Islamic University Malaysia).


menunjuk Syed al-Attas sebagai Pemegang Pertama Kursi Kehormatan Abu
Hamid al-Ghazali dalam Studi Pemikiran Islam (Abu Hamid al-Ghazali Chair of Islamic Thought) di ISTAC. Raja Hussein dari Yordania mengangkatnya sebagai Anggota Royal Academy of Jordan pada tahun 1994, sedangkan Universitas Khartoum menganugerahi gelar doktor kehormatan (D.Litt.) di bidang seni kepadanya pada Juni 1995.

Syed al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, baik dalam bahasa Inggris maupun Melayu dan banyak yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Malaysia, Indonesia, Perancis, Jerman Rusia, Bosnia, Jepang, India, Korea, dan Albania.

Lahirnya Ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Tanggapan Ilmuwan

Syed al-Attas memberanikan diri menyatakan bahwa:
Tantangan terbesar yang diam-diam timbul dalam zaman kita adalah tantangan pengetahuan, memang, tidak sebagai tantangan terhadap kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Pengetahuan Barat itu sifatnya telah menjadi penuh permasalahan karena ia telah kehilangan maksud yang sebenarnya sebagai akibat dari pemahaman yang tidak adil. Ia juga telah menyebabkan kekacauan dalam hidup manusia, dan bukannya perdamaian dan keadilan.

Peradaban Barat yang dimaksdu oleh Syed al-Attas adalah peradaban yang tumbuh dari peleburan historis dari berbagai kebudayaan, nilai-nilai. Yakni peleburan dari peradaban, nilai, filsafat, dan aspirasi Yunani, Romawi Kuno dan perpaduannya dengan jaran Yahudi dan Kristen yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh rakyat Latin, Jermania, Keltik dan Nordik.

Dari Yunani diperoleh unsure-unsur filosofis, epistemologis, landasan-landasan pendidikan, etika dan estetika; dari Romawi diperoleh unsure-unsur hukum dan ilmu tata negara; dari Ajaran Yahudi dan Kristen diperoleh unsur-unsur kepercayaan religious; dan rakyat Latin, Jermania, Keltik dan Nordik diperoleh nilai-nilai semangat dan tradisional yang bebas dari nasionalisme. Lihat: Khudori Soleh, Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016).

Sekali lagi, epistemologi Barat mengagungkan skeptisme, menurut
Syed al-Attas ini akan menyebabkan ketegangan batin yang pada gilirannya
membangkitkan keinginan tak pernah terputuskan untuk mencari dan
memulai suatu perjalanan dalam mencari penemuan demi penemuan. Namun,
lebih lanjut Syed al-Attas menjelaskan kebenaran hanya bisa dicapai dengan
hidayah (petunjuk Allah).

Baca Juga : Moderasi Islam: Menalar Kegagalan Berpikir Kaum Ekstrim

Secara ringkas, gagasan islamisasi ilmu oleh Syed al-Attas adalah
respons inteleknya terhadap dampak negatif ilmu dari Barat sebagaimana
penjelasan di atas yang semakin terlihat dan dirasakan masyarakat, yang
menurutnya merupakan akibat dari adanya krisis di dalam basis ilmu Barat,
yakni konsepsi tentang realitas atau worldview (pandangan dunia/pandangan
hidup) yang melekat pada setiap ilmu, yang kemudian menyebar pada
persoalan epistemologis, seperti sumber pengetahuan, salarun-saluran untuk
memperoleh ilmu, masalah kebenaran, bahasa dan lain sebagainya
menyangkut masalah ilmu pengetahuan.