Oleh : Hanum Nasution

Roda kehidupan terus berjalan, membawa serta segala yang ada bersamanya. Suka, duka, sedih, bahagia. Pada suatu waktu seseorang merasakan bahagia, bersuka cita atas sesuatu. Tertawa riang seakan beberapa beban telah hilang, dan umumnya manusia merasa mudah untuk melalui masa-masa semisal itu. Siapa kiranya yang akan bersedih jika diberikan suatu kebahagiaan? 

Namun, terkadang juga manusia dirundung kesedihan. Ada saat di mana seseorang terpaksa untuk berada pada satu kondisi yang begitu menyesakkan. Menggoda diri untuk melontarkan keluhan demi keluhan. Sedih yang serasa tak tertahankan, tumpahan tangis yang pada satu waktu seakan enggan untuk dihentikan, dan umumnya manusia tidak suka dengan keadaan semisal itu. Siapa kiranya yang akan senang jika ditimpa sesuatu yang benar-benar tidak diinginkan?

Demikianlah dinamika yang harus dilalui oleh setiap manusia. Tak ada seorang pun di muka bumi yang tak pernah tersandung dalam langkah, dan rasanya tak ada manusia yang sama sekali tidak memiliki bahagia. 

Suka dan duka akan selalu setia menemani perjalanan hidup setiap insan secara bergantian. Kita sebagai muslim tentu paham dengan hal ini. Barangkali telah berkali-kali kita dicekoki dengan nasehat bahwa hidup itu ujian. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Ankabut ayat ke dua yang artinya:

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?

Jelas sekali bahwa setiap kita pasti diuji.

Akan tetapi, meski manusia telah tahu bahwa ujian takkan pernah lelah memberikan warna dalam kehidupan, terkadang ada hati yang begitu berat menerima keadaan. Merasa tidak mampu mengemban sesuatu yang terlanjur diletakkan di atas pundaknya. Merasa sudah lelah, kalah, dan inginnya menyerah. Tepatkah?

Mengapa tidak memberi kesempatan bagi jiwa untuk menghirup kesegaran ketika ia berada pada suatu waktu kondisi yang seakan tidak menunjukkan keberpihakan? Mengapa tidak mencoba merenung sejenak dan memandang segala sesuatunya melalui sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya? 

Sebab, larut dalam kesedihan rasanya takkan bisa memberikan apa-apa. Alih-alih memulihkan, justru akan memperparah keadaan. Muslim yang beriman, ketika mendapati kondisi semisal ini, hendaknya kembali menyegarkan ingatan akan firman Allah yang berbunyi:

Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 261)

Sehingga, ketika berada pada keadaan yang tak mengenakkan, hendaknya ia menyikapinya dengan lebih bijaksana. Ayat ini mengabarkan kepada manusia bahwa bisa saja ia tidak suka akan satu keadaan, padahal keadaan itu menyimpan sesuatu yang sebenarnya ia butuhkan.

Siapa agaknya yang lebih mengetahui tentang sesuatu selain pencipta dari sesuatu itu sendiri? Adakah kiranya yang lebih memahami manusia selain dari Penciptanya? Tidak ada. Bahkan sang pemilik diri pun tidak lebih mengetahui tentang dirinya dari pada Penciptanya. 

Ayat tadi,  jika dikolaborasikan dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat ke 286 yang artinya “..Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,”

Kiranya dapat kita ambil satu konklusi bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik hal yang disukai maupun tidak disukai, merupakan sesuatu yang bisa saja menyimpan hal yang akan ia butuhkan kemudian. Apapun itu, bagaimanapun beratnya, hendaknya ia mengingat bahwa tidak ada satu pun hal yang menimpa dan ditimpakan kepadanya kecuali ia mampu untuk melaluinya.

 Maka, yang lebih bijak bagi seseorang yang merasa terhimpit oleh sesuatu adalah mencoba dan terus berusaha mendidik dirinya untuk terbiasa berpikir positif, agar kemudian ia mampu untuk lebih rasional dalam bersikap pada suatu keadaan. Juga mengedepankan sisi kebermanfaatan dari sesuatu itu, baik hal yang disuka maupun hal yang sebenarnya tidak diinginkan untuk ada. 

Pikiran positif terhadap sesuatu itu kemudian akan membantunya untuk melihat sisi baik dari hal tersebut. Kemudian mengambil hikmah darinya agar yang kemudian timbul adalah hal-hal baik dari dalam dirinya, sebab menurut Sakina (2008) pikiran positif dapat membangun dan memperkuat kepribadian diri dan karakter.

Mencintai keadaan, adalah satu hal yang kemudian akan dirasakan, setelah terbentuknya pola pikir baru yang dibangun dari pemahaman tentang ketetapan atas setiap kejadian, diiringi dengan pikiran positif terhadapnya.

Dengan demikian, ketika telah terbentuk mindset untuk selalu mengedepankan positif thinking atas setiap hal yang dialaminya, seseorang akan dapat menyikapi setiap keadaan yang dialaminya dengan lebih bijaksana. Mencintai keadaan, menerimanya, meneruskan langkah dengan penuh ketenangan, pertimbangan, dan keikhlasan. Manifestasi dari dua hal inti kehidupan: kesabaran dan kesyukuran.

Editor : Muhammad Yahya