oleh : Al bawi

Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang merupakan organisasi kepelajaran yang memiliki pokok-pokok tujuan yaitu membentuk pelajar yang memiliki keterampilan keilmuan, memiliki akhlak mulia, serta kreatif dalam rangka menegakan dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Membentuk masyarakat Islam atau yang sering dikenal MIYS (Masyarakat Islam Yang Sebenarnya) merupakan konstruksi sosial masyarakat yang nernapaskan islam penuh rahmat, sehingga bukan “wujud” sebuah negara Islam.

Pokok-pokok pikiran gerakan IPM menjadi pengaktualan diri untuk melangkah membentuk nilai-nilai sosial. Karena organisasi kepelajaran ini merupakan wujud dari realitas sosial itu sendiri sehingga IPM sebagai “eksistensi realitas” menjadi pelopor gerakan sosial berbasis pelajar dalam mewujudkan kaidah Islam.

Sebuah pandangan ini merupakan penglihatan bagaimana eksistensi gerakan IPM bisa bertahan atas ke tidak berpihakan terhadap agenda sosial. Usaha ini sangat perlu dilakukan sebagai bahan konstentrasi perluasan pemikiran dan agenda yang berbasis kepedulian sosial bagi seluruh makhluk hidup sehingga IPM tidak tumbuh diruang hampa dan tidak berkembang dari tangan-tangan yang tidak berorientasi gerakan sosial (Social Movement).

Melalui hal ini gerakan-gerakan yang lahir di IPM hingga berbagai sistem perkaderan tidak menjadi mitos melainkan sebagai mewujudkan realitas zaman. Bahwa Gerakan Pelajar Berkemajuan bukan hanya sekadar slogan pragmatis pimpinan melainkan sebuah entitas gerakan perlawanan atas problematika global yang menjadi tafsir atas respon isu-isu yang wajib dikritisi pelajar.

Konstruksi gerakan sosial

Pada tahun 1930-an hingga memasuki era tahun 1960an teori sosial di fokuskkan pada studi psikologi sosial, termasuk juga sebagai reaksi terhadap popularitas psikonalisis dan pengaruh “dunia nyata” Nazisme, fasisme, Stalinisme, tindakan main hakim sendiri misalnya dengan mengeroyok atau membunuh, termasuk juga kerusuhan-kerusuhan yang berbau ras.

 Robert Park berjasa sebagai pengguna pertama istilah “tingkahlaku kolektif” (collective behavior). Tulisan Park bersama Burges memperlihatkan pengaruh Gustave LeBon dalam penggunaan sejumlah konsep seperti sugestibilitas, ketularan (contagion), dan kepatuhan kerumunan (crowd) kepada seorang pemimpin. Mereka juga memperlihatkan bahwa tingkahlaku kolektif (collective behavior) merupakan kekuatan yang dapat membawa perubahan. Kesimpulan Park akhirnya mengemukakan bahwa kerumunan(crowd) dan publik atau kelompok atau perkumpulan massa (mass society) mengakhiri ikatan-ikatan lama dan membawa individu ke dalam jalinan hubungan-hubungan baru (Turner & Killian, 1987).

 tingkahlaku kolektif menjadi termilogi tersendiri bahwa realitas IPM yang hadir sebagai benteng penjaga, perkumpulan massa, hingga sebagai gerakan untuk melawan kebodohan, penindasan,ketimpangan sosial bahkan masuk kepada diri yaitu perbaikan akhlak.

Kesadaran sosial

Ibnu Sina membagi empat level yaitu pada level pertama disebut sebagai akal material (al-aql’ al-huyulani) yang merupakan sifat bawaan dari lahir manusia untuk mengenal indra dan bahasa yang bersifat mendasar. Yang kedua, akal terlatih (al-‘aql bi al-malakah) merupakan lanjutan dari akal material,bahwa dalam prosesnya akal manusia mulai mempelajari prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan. Yang ketiga, akal aktual (al-‘aql bi al-fi’l) sebuah respon atas prinsip dasar tersebut sehinggak mengktifkan nalar intelektualnya menjadi pengetahuan lebih lanjut dan yang terkahir merupakan puncak dari rekonstursi akal teresebut yang merupakan segmen tertinggi yang para Nabi-nabi mampu melampaui akal ini yang didalamnya mekanai semesta wujud  dalam diri manusia menjadi tiruan dari dunia yang dapat dipahami, akal ini disebut akal perolehan (al’aql- al-mustafad).

Melalui kesadaran akal yang ketiga yaitu al-‘aql bi al-fi’l atau akal aktual yang menjadi bentuk kerja-kerja lapangan IPM dari setiap periodeisasi untuk menjaga dan memperkaya daya imaji sehingga menghasilkan aksi atau yang dikenal dengan prinsip antisipatif melalui sebuah paradigma berpikir.

Bahkan Thomas Khun sendiri menjelaskan bahwa paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai, metode dan prinsip untuk memecahkan suatu masalah yang dianut suatu masyarakat ilmuah pada sesuatu tertentu. Kemudian Khun mempercayai bahwa ilmu pengetahuan memiliki perode pengumpulan data dalam sebuah paradigma.

Artefak-artefak IPM sejatinya merupakan wujud dari implementasi ilmu pengetahuan untuk membentuk pemecahan masalah dari realitasi kehidupan. Yang menjadi napas panjang IPM ini tetap terjaga adalah bentuk kepedulian sosial dan pendidikan sosial yang tercipta bahkan IPM sendiri memiliki corak Pencerdasan,Pemberdayaan dan Pembebasan.

David efendi dalam tulisan proglognya melalui buku Melampaui kritis karya Fauzan Anwar Sandiah menegaskan gerakan pelajar, seharusnya, bukan melulu urusan bagaimana pelajar meraih sukses dunia akhirat tetapi juga dilengkapi dengan aktifitas lain yang membumi seperti mengembangkan kebudayaan, mengapresiasi seni, sampai pada kegiatan berkebun/menanam, emansipasi ekologi, wujud gerakan nir kekerasan, pendidikan kritis dan sebagainya. Dengan begitu, keadaan manusia akan lebih baik, hubungan manusia akan lebih setara dan tanpa penindasan hanya dengan ini peradaban menjadi berharga.

Melalui corak “Gerakan Pelajar Berkemajuan” muncul konsepsi pemekaran argumentatif gerakan sosial mulai dari ekoliterasi, keadilan gender,pembelaan teman sebaya, berdikari ekonomi, inklusifitas gerakan sehingga dakwah bil-hal dapat menjadi wujud new social movement atau yang dikenal dengan gerakan sosial baru yang berfokus kepada inklusifitas dan tidak bersifat eksklusif.

Setelah berurusan dengan memulai kesadaran sosial. IPM harus menyadari dirinya berada dalam ranah sosial baru yang dimana realitasnya bersifat kolektif, tidak hirarkis, pemecahan masalah terhadap isu.

Gerakan sosial baru dapat di buka dalam cara pandangnya melalui seorang sosiolog Perancis yakni Alain Touraine. Dalam menilai GSB masyarakat kontemporer, Touraine berpendapat bahwa unsur pokok dari gerakan sosial adalah aksi (action), yaitu sebuah aksi melawan sistem sosial. Dalam menilai GSB, Touraine menekankan pentingnya tindakan sosial, bahwa aksi yang dilakukan individu-individu dalam bentuk gerakan sosial merupakan suatu upaya untuk memproduksi dan mentransformasi struktur dan tatanan sosial yang ada. Dan aksi sosial dalam gerakan sosial ini dilihat sebagai tindakan yang normal menuju pada satu perubahan yang diharap oleh masyarakat.

Menjelang akhir tahun 1960-an lebih jelasnya mengawali tahun 1970-an ke atas, munculnya suatu upaya baru dari para teoritisi studi gerakan sosial baik di Eropa maupun di Amerika, untuk memformulasi kembali perspektif teori gerakan sosial yang cukup berpengaruh kuat pada periode pertama yang didominasi oleh psikologi sosial klasik. Periode kedua ini lahir dan menandai semangat baru dalam merumuskan ulang berbagai pendekatan studi gerakan sosial lama, ke dalam formulasi baru yang disebut Gerakan Sosial Baru (New Social Movement). Pada masyarakat kontemporer yang banyak berubah, telah menjadikan Gerakan Sosial Baru (GSB) memiliki citra baru dalam berbagai tampilan wajah, tipe-tipe, bentuk serta model gerakan sosial.

Prinsip sosialis pelajar

Gerakan Sosial baru (New Social Movement) mempunyai karakter yang lain yaitu, Framing(pembingkaian). adalah suatu bentuk cara pandang individu terhadap fenomena yang dipengaruhi oleh ideologi di dalam dirinya. Dengan kata lain, frame menentukan sikap individu terhadap suatu fenomena. Menurut Goffman (2002), frame dalam gerakan sosial adalah “skema interpretasi” yang memberikan kemampuan individu untuk mengidentifikasi suatu fenomena yang sedang terjadi di sekitarnya.

Frame tidak hanya terpaku terhadap pengaturan secara individu, tetapi juga kelompok. Frame itu sendiri memiliki elemen-elemen tertentu seperti nilai-nilai, sikap, kepercayaan, dan tujuan. Framing dalam gerakan sosial lebih dapat dianggap sebagai cara atau strategi yang digunakan untuk menyamakan pandangan baik dari pelaku maupun dari masyarakat terhadap suatu isu tertentu.

Frame yang dipakai dalam IPM adalah isu strategis yang hari ini mempunyai empat fokus isu antara lain Student Earth Generation, Campaign Iklusi, Studentpreneur, Gerakan Pelajar Sehat. Dalam empat isu ini merupakan aksi sosial yang tercipta kaderna memiliki kegelisahan bersama secara nasional yang di bahas memalui forum tertinggi IPM yaitu Muktramar.

Tetapi memliki kendala karena banyak yang memaknai lebih dalam isu strategis ini. Misalnya dalam ranah ekologi ada sembilan komponen agenda yang mendesak pelajar untuk turun dalam membangun kepedulian lingkungan hidup. Tetapi dalam praktiknya hanya berbicara hal kecil dari luasnya studi ekologi yang ada. Pelajar Muhammadiyah harusnya sudah siap atas gerakan sosial yang terjadi di Eropa hari ini melalui gelombang massa Friday For Future, sedangkan setiap level pimpinan belum memasukan ranah advokasi dan ranah kritis dalam realitas kerusakan iklim. Hal ini pula menjadi autokritik bersama untuk mendudukan kesadaran isu dalam frame yang sama yaitu kepedulian sosial sehingga bukan menjadi gerakan populis tetapi menjadi gerakan kritis pelajar bernapas kemajuan.

Prilaku kolektif

Problematika yang di hadapi IPM secara kelembagaan membawa arus kesdaran kolektif untuk bersama-sama merawat nalar akademis dan nalar kritis yang bertujuan mencapai tujuan-tujuan gerakan IPM sehingga melalui agenda aksi dapat menjadi rujukan kolektif untuk memecahkan sebuah permasalahan.

Perilaku sosial merupakan hal terpenting dalam suatu sosialisasi kehidupan, tak sedikitpun seseorang mengelak akan keberadaan perilaku sposial di sekitar kita. Oleh karena itu, kehidupan di masyarakat sangat sarat dengan perilaku sosial, baik itu perilaku sosial yang individualis maupun kolektif.

Paradigma ketegangan struktural sebagaimana konsepnya merupakan sebuah paradigma yang menempatkan ketegangan struktur (structural strain), di mana bentuk-bentuk ketegangan pada tingkat lebih dari hanya sekadar pengalaman individu. Dalam konteks ini, ketegangan dipahami sebagai sebuah kondisi yang eksis secara obyektif.

perkumpulan massal (mass society) pada skala yang lebih luas. Mereka memisahkan individu dari keterikatan dengan kelompok-kelompok primer seperti keluarga, hubungan sekunder yang stabil (seperti memiliki pandangan ideologi yang sama yaitu sebuah perkumpulan pelajar). Mereka juga memisahkan individu dari hal-hal rutin biasa, termasuk dari tingkahlaku politik yang konvensional.

Dengan ini para individu tersebut lebih mudah menerima tekanan (pressure) yang irasional. Kondisi-kondisi perkumpulan massal pada gilirannya membuat individu lebih gampang menerima tekanan-tekanan guna mengambil bagian dalam tingkahlaku kolektif (collective behavior).

Melalui konteks ini IPM melalui individu-individu yang memiliki kesamaan kepedulian sehingga membangun rumusan isu strategis dan agenda aksi merupakan wujud dari tekanan dari luar. Sehingga akar dari sering terhambatnya gerakan IPM dalam menjawab gerakan sosial ini adalah karena ada benteng (barrier) yang cukup tebal dengan lahirnya sifat kaku dalam menjalankan roda kolektif, bergerak dalam ruang lingkup populis sehingga birokrasi merupakan penghambat dalam melakukan gerak kolektif, terjebak dalam narasi yang tidak bersifat gerak sosial, dan yang terakhir tidak memiliki “melek dan peka” dalam realitas sosial. Sehingga bukan pelajar yang tidak mengetahui atau menggampangkan suatu problematika tetapi tidak percaya dirinya para pemilik struktural dalam mengambil keputusan yang radikal.