Abdul Malik Fadjar dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1939 di Yogyakarta. Ia adalah alumni Institut Agama Islam negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1972 dan tamatan Florida State University pada tahun 1981. Selain itu, ia juga pernah mengikuti pelatihan manajemen di University Administrasi Program, University Of Kentucky Amerika Serikat pada tahun 1990.

Abdul Malik Fadjar pernah menjabat sebagai menteri Pendidikan Nasional RI pada periode pemerintahan Presiden Megawati tahun 2001-2004 dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang.

Beliau dapat dikelompokkan sebagai pemikir pendidikan yang bercorak modern dengan tetap bertumpu kepada ajaran dasar Islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits serta budaya dan nilai-nilai yang terdapat di Indonesia.

Dikutip dari pidato yang disampaikan dalam acara pengukuhan Guru besar Tokoh Muhammadiyah, Abdul Malik Fadjar mengutip pengertian pendidikan Islam dari Zarkowi Soejoeti jenis pendidikan diperinci menjadi tiga: pertama, jenis pendidikan yang pendiriannya dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita yang melejitkan nilai-nilai Islam

Pengertian pendidikan Islam ditempatkan sebagai sumber nilai sekaligus sebagai bidang studi. Jadi pendidikan Islam tidak hanya sekedar menyangkut soal ciri khas dan bukan hanya sekedar menjadi “cagar alam” untuk mempertahankan paham-paham keagamaan tertentu, Akan tetapi tugas dan fungsi dari pendidikan Islam lebih dari itu.

“Kemajuan sebuah bangsa pada umumnya ditentukan oleh bangsa itu dalam mendayagunakan sumber manusia melalui pergumulannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan”

dari asumsi diatas maka munculah gagasan pemikiran Abdul Malik Fadjar mengenai strategi dalam dunia pendidikan.

Karya Malik Fajar

Tradisi menulis yang dilakukan Malik sejak ia memasuki dunia kampus (mahasiswa) di UIN Malang. Menulis apa saja, disurat-surat kabar dan buku-buku yang diterbitkan. Dari kebiasaan menulis ini kemudian Malik di kenal sebagai pribadi kreatif dan produktif. Benar apa yang diuraikan Syaikh Ihsan Jampes, Kediri dalam karyanya Siraj alThalibin; . . .

Barang siapa yang mengarang buku maka sungguh dirinya telah tertolong. Juga barang siapa menulis buku berarti ia telah meletakkan akalnya di suatu asaz dan akan memperoleh kehormatan yang mulia dari manusia (man shannafa faqad as’afa wa man shannafa faqad wadha’a fi thabaq wa’irduha ‘ala-al-nas).

Memahami makna kreativitas dan produktivitas Tuhan di alam raya ini kiranya merefleksikan kinerja A. Malik Fadjar sebagai pribadi pengabdi untuk berkreasi dan bekerja keras. Ada beberapa buku yang bisa diidentifikasikan sebagai hasil kreativitasnya, diantaranya adalah;

 1. Kuliah Agama Islam (Surabaya: Al-Ikhlas,1981)

 2. Kepemimpinan Pendidikan (Malang: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1983)

3. Dunia Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (Malang: UMM Press,1989)

4. Dasar-dasar Administrasi pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media,1993)

5. Reorientasi Wawasan Pendidikan dalam Muhammadiyah dan NU (Yogyakarta: Aditya Media, 1993)

6. Pendidikan Islam: Paparan Normatif, filosofis, dan politis (Malang: UMM Press, 1993)

7. Visi Pembaharuan Pendidikan Islam (Jakarta: LP3NI,1998)

8. Madrasah dan tantangan modernitas (Bandung: Mizan,1998)

9. Reorientasi pendidikan Islam (Jakarta: Fadjar Dunia,1999)

10. Pendidikan, Agama, Kebudayaan, dan Perdamaian (Malang: UIN Malang Press,2004)

11. Sintesa Antara Perguruan Tinggi dengan Pesantren (Malang: UIN Malang Press,2004)

12. Berbagai artikel dan makalah yang dimuat berbagai media, baik nasional maupun internasional.

Pendidikan Islam Ala Malik Fajar

pendidikan Islam paling tidak harus mempunyai tiga pengertian.  Pertama, lembaga pendidikan Islam itu pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat keinginan untuk menyalurkan nilai-nilai Islam yang tercermin dalam nama lembaga pendidikan itu dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Dalam pengertian ini Islam dipandang sebagai sumber nilai yang harus diwujudkan dalam lembaga pendidikan tersebut.

Kedua, lembaga pendidikan yang memberikan perhatian dan menyelenggarakan kajian tentang Islam yang tercermin dalam program kajian sebagai ilmu dan di perlakukan seperti ilmu-ilmu yang lain yang menjadi program kajian lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Ketiga, mengandung kedua pengertian di atas, dalam arti lembaga tersebut memperlakukan Islam sebagai sumber nilai bagi sikap dan tingkah laku yang harus tercermin dalam penyelenggaraannya maupun sebagai bidang kajian yang tercermin dalam program kajiannya.

Kemudian dalam buku beliau yang berjudul “Reorientasi Pendidikan Islam” mengatakan pendidikan Islam adalah pemberi corak hitam putihnya perjalanan hidup seseorang, yang berwawasan semesta, berwawasan kehidupan utuh dan multi dimensional, yang meliputi wawasan tentang Tuhan, manusia dan alam secara integratif. Oleh karena itu, ajaran Islam menetapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu kegiatan hidup yang wajib hukumnya bagi pria dan wanita, dan berlangsung seumur hidup (long life education).

Selamat jalan Guru Bangsa, jasamu akan terus abadi dalam goresan ilmu pengetahuan yang telah engkau torehkan baik untuk Muhammadiyah bahkan Indonesia.

Redaksi Al-ashr.id

Editor: Al bawi