Dua minggu sebelum COP26, masjid terbesar di Indonesia dan ribuan generasi muda Muslim berpartisipasi dalam aksi lintas-agama akar rumput global, mendesak diakhirinya pengembangan batu bara dan mendorong penerapan energi bersih

Masyarakat semakin tidak sabar, akibat industri batu bara, industri kelapa sawit dan agribisnis, serta manajemen aset dan badan perbankan yang membiayai mereka telah memperburuk krisis iklim meskipun sudah beberapa dekade terjadi peringatan serta dampak yang semakin meningkat. Hari ini, masjid terbesar di Indonesia dan dua gereja besar di Jakarta serta organisasi Muslim terbesar yakni Muhammadiyah – ‘Aisyiyah dan jaringannya bergabung dengan ribuan pemuda Muslim dan para pemimpin agama di seluruh pelosok negeri dalam aksi yang terkoordinasi secara global hari ini dalam kampanye global “Faiths for Climate Justice” atau “Iman untuk Keadilan Iklim”. 

Faiths for Climate Justice merupakan gerakan mobilisasi global umat beragama yang diorganisir oleh GreenFaith International Network yaitu aliansi multi-agama dari berbagai organisasi keagamaan akar rumput di Afrika, Amerika, Asia, Australia, dan Eropa. Ini merupakan aksi iklim multi-agama terbesar yang pernah ada dan diselenggarakan dua minggu sebelum COP26 untuk menunjukkan protes keras dari berbagai komunitas agama di dunia atas kurangnya keseriusan dari berbagai pemerintahan dunia dalam komitmen serta program nyata untuk penanggulangan krisis iklim hingga saat ini. Sementara kondisi bumi sudah semakin mengenaskan dan hasil laporan terakhir dari IPCC pada bulan Agustus lalu  telah membuktikan hal tersebut yang disebut dengan istilah “Code Red for Humanity.”

Aksi ini diselenggarakan di seluruh dunia untuk menyuarakan tuntutan yang dibuat oleh ummat berbagai agama dari tingkat akar rumput, yang mencakup segera diakhirinya proyek bahan bakar fosil baru (minyak bumi, gas, batubara, dst), deforestasi hutan tropis, serta pembiayaan terkait; adanya akses universal terhadap energi bersih terbarukan untuk semua; perlunya kebijakan yang menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan, meningkatnya pengembangan energi terbarukan, serta terbangunnya proses transisi yang adil bagi para pekerja dan masyarakat yang terkena dampak dari perubahan iklim;  perlunya dukungan untuk kaum migran korban dari krisis iklim; serta dibutuh mekanisme reparation (ganti-rugi) dari negara-negara bekas penjajah serta berbagai industri yang bertanggung jawab atas bagian terbesar dari emisi gas rumah kaca dalam sejarah dunia. Lebih dari 200 pemuka agama tingkat tinggi dan 50 kelompok/institusi keagamaan yang mewakili lebih dari 50 juta anggota telah menandatangani tuntutan ini. Sampai hari ini lebih dari 420 aksi yang telah terdaftar untuk dilaksanakan lebih dari 43 negara di dunia.

Di Jakarta, 17 Oktober 2021, di dekat pusat pemerintahan, di depan Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral sejumlah perwakilan dari umat Muslim dan Katolik membentangkan spanduk yang menyuarakan Stop Merusak Ciptaan Tuhan, pentingnya Pendidikan Lingkungan untuk Anak demi menyelamatkan masa depan, dihentikannya penggunaan batu bara, dan penyelamatan hutan. Dari kawasan tersebut mereka melakukan aksi yang sama di Gereja Katolik Santa Theresia dan Kantor Pusat PP Muhammadiyah.

“Merusak dan tidak menjaga lingkungan adalah perbuatan haram, karena itu yang menimbulkan madhorot/keburukan tiada bertepi serta merusak masa depan generasi yang akan datang. Beragama harus direfleksikan dalam tindakan tidak merusak dan menjaga lingkungan, karena hal itu tidak dilakukan, kita telah abai pada nilai keagamaan kita. Menjaga dan memelihara lingkungan adalah jihad yang mulia” ujar Hening Parlan, Kepala Divisi Lingkungan Hidup, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang sekaligus founding partner  GreenFaith International-Asia.

Sementara, Brigitta Isworo fellow GreenFaith International mengatakan, “Kita lupa bahwa kita sendiri dibentuk dari debu tanah (Kejadian 2:7), tubuh kita tersusun dari partikel-partikel bumi, serta kita menghirup udaranya serta dihidupkan dan disegarkan oleh airnya.” “Merusak bumi dan lingkungan sama dengan merusak kehidupan yang diberikan oleh Tuhan,” tambahnya.

“Agama kita mengajarkan kita untuk menjaga bumi sebagai tempat beribadah bagi semua orang,” kata Nashir Efendi, Ketua Nasional Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). “Namun pemerintah, lembaga keuangan, dan perusahaan besar justru menghancurkan masa depan kami. Maka ini harus dihentikan.” 

 “Bumi diciptakan  dalam keseimbangan yang sakral, namun selama ini penggunaan bahan bakar fosil serta deforestasi telah merusaknya,” kata David Efendi, anggota Presidium Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) dan merupakan penyelenggara utama di Rumah Baca Komunitas (RBK) yaitu pusat literasi masyarakat di Yogyakarta. “Kaum muda beragama di Indonesia menyerukan agar para pemimpin dunia yang akan bernegosiasi di COP 26 nanti untuk segera mengakhiri era bahan bakar fosil dan deforestasi serta mempercepat Global Green Deal yang akan memastikan ketersediaan energi bersih dan lapangan kerja ramah lingkungan untuk membantu pemulihan kita dari pandemi COVID. Ini adalah masalah eksistensial bagi generasi kami. Tanggung jawab moral tidak bisa lebih jelas.” 

Aksi di Jakarta itu dibarengi dengan aksi di ratusan para pelajar Muhammadiyah di 9 provinsi yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) akan  pentingnya menghentikan pembangunan batu bara dan deforestasi. Di Yogyakarta, pemuda Muhammadiyah melakukan program pendidikan dan penandatanganan petisi menentang pembangkit listrik batubara baru dan deforestasi serta membela hak-hak masyarakat adat. Sebuah komunitas literasi (RBK) melakukan jalan keadilan iklim di pusat kota Yogyakarta dengan pertunjukan seni yang mengekspresikan protes damai terhadap deforestasi besar-besaran dan aktivitas penambangan batu bara. Di Riau, Sumatera, para pemuka agama menulis surat terbuka yang menyerukan kepada Presiden Joko Widodo untuk menjaga hutan dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana, terutama di Suaka Margasatwa Rimbang Baling sebagai wilayah terakhir yang tersisa dari harimau Sumatera, di antara mamalia yang paling terancam punah di Bumi. 

Di kota New York, aktivis pemuda-pemudi Yahudi dan aliansi lintas agama memblokade pintu masuk ke markas BlackRock, manajer aset terbesar di dunia, yang menginvestasikan miliaran dolar dalam proyek minyak, gas, dan deforestasi. 

Di Inggris Raya, tuan rumah COP 26 mendatang, sebuah kelompok lintas agama berbaris di depan kediaman Perdana Menteri di 10 Downing Street di London dan mengajukan tuntutan dan petisi keagamaan, dan kemudian memproyeksikan tuntutan iklim ke Gedung Parlemen. Gereja-gereja di seluruh Inggris menggantung spanduk yang menyerukan pemerintahnya untuk mengakhiri proyek bahan bakar fosil baru dan memberikan dukungan keuangan yang murah hati untuk negara-negara yang rentan terhadap iklim. 

Para pemimpin agama di Australia mengadakan kebaktian dan berdoa bersama umat berbagai agama di luar kantor lokal Perdana Menteri Scott Morrison, membentangkan spanduk besar yang bertuliskan, “Scott Morrison: Lindungi Ciptaan Tuhan – Aksi Iklim yang Berani Sebelum 2030.” 

Dan di berbagai kota di Indonesia, kaum perempuan di akar rumput melakukan aksi memeluk pohon dan memukuk kentongan untuk menunjukkan hubungan erat mereka dengan alam dan keinginan untuk selalu melindungi hutan dari kerusakan lebih lanjut serta alarm agar jangan menebang hutan dilakukan di  oleh ‘Aisyiyah Cabang Sukoharjo, di Kalimantan Barat, perempuan – perempuan melakukan edukasi dengan kegiatan mengaji lingkungan, di Bali mereka mengkampanyekan bebas plastik serta penanaman pohon, dan di Riau  melakukan praktik science untuk gambut bersama komunitas. Para pemimpin agama di Riau juga akan melayangkan surat kepada Presiden Jokowi untuk melindungi hutan dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana, terutama di Wilayah Konervasi Rimbang Baling. Rimbang Baling saat ini menjdi salah satu kawasan yang amat terbatas untuk konservasi harimau sumatera yang terancam punah.

“Kelompok agama di akar rumput tidak bisa menerima retorika kosong para politisi, pimpinan lembaga keuangan, atau industri kotor. Kita paham bahwa saat ini sudah berada dalam dalam krisis iklim dan dan kami akan memastikan bahwa para pemimpin – pemimpin agama kami tidak akan lupa” tambah Hening Parlan.