Oleh: Asman*

Kepemimpinan merupakan sikap seorang pemimpin atau individu yang mempengaruhi anggota kelompoknya mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah dilaksanakan. Tanggungjawab yang diemban haruslah dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Karena setiap perbuatan yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

Sehingga di dalam Al-Quran surah AL- Ahzab menjelaskan ketika langit, bumi dan gunung ditawarkan untuk memegang amanah tersebut, mereka enggan menerima sebab ketakutan mereka, nantinya tidak amanah. Maka diembanlah oleh manusia amanah tersebut. Namun satu hal yang menjadi kebaikan ialah, jika mampu melaksanakan amanah tersebut dengan baik , maka pahala akan melimpah kepada kita. Maka mencontohi Rasullah, para sahabat, dan ulama terdahulu dalam kepemimpinan merupakan hal yang mutlak. 

Dalam teori yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, untuk mendapatkan kepercayaan serta diikuti sebagai pemimpin maka harus ada hegemoni yang dibuat oleh seseorang agar orang-orang bisa mengikuti apa perkataan dan perbuatan kita. Menyiapkan konsep dan aksi merupakan hal yang mutlak dalam kepemimpinan. Begitupun dengan dunia organisasi. IMM memiliki konsep kepemimpinan yang unik dan saya anggap mampu menjawab seluruh persoalan organisasi.

Kepemimpinan kolektif kolegial. Model kepemimpinan ini, memberikan peluang yang sama kepada seluruh kader IMM, yang berada di struktural untuk merealisasikan konsep yang dibuat. Atau dengan kata lain, kepemimpinan IMM membagi peran kepada seluruh kader di struktural untuk mengerjakan program kerja yang sudah di wacanakan di rapat kerja. 

Kolektif Kolegial VS Kolektif Kolonial

Seperti penjelasan di atas, kolektif kolegial merupakan pembagian tupoksi atau peran di pimpinan IMM untuk saling melengkapi dan tidak terpaku kepada satu ketua saja. Di IMM, dalam struktur disebut sebagi ketua agar, merasa bahwa seorang ketua bukan lagi menunggu digerakkan atau di hegemoni.

Melainkan masing-masing harus menggerakan diri dan bawahannya yaitu komisariat untuk mengembangkan dan memajukan gerakan IMM. Kolektif kolegial itu, bukan cuman ketua umum yang mengaktifkan diri, mengurusi program kerja sendiri. Ataupun sebaliknya ketua umum tidak peduli, namun anggota yang lain yang peduli.

Sejauh yang saya pahami, kolektif kolegial ialah bersama-sama, berjalan berdampingan untuk mengemban amanah dalam memperbaiki sistem organisasi yang ada. Namun pada realitasnya, terkadang ketua umum kerja sendiri yang lain dalam satu kepengurusan sibuk membuat konsep tanpa aksi, berkomentar tanpa teori. 

Akhirnya, bukan kolektif kolegial yang terjadi, melainkan kolektif kolonial (kata seorang kader IMM). Jika dipikir-pikir, IMM tidak pernah memberikan gaji sehingga untuk apa menghabiskan waktu untuk organisasi yang tidak memberikan apa-apa. Tapi pada dasarnya, bukankah bukan itu yang diharapkan?

Kepemimpinan kolektif kolegial seharusnya mampu mengurangi beban atau masalah dalam kepemimpinan, dengan catatan kesadaran kader harus ada dan terpatri di dalam diri seorang kader.

Contoh lain yang coba saya sampaikan yaitu dalam mengurus perkaderan. Mulai dari mengurus peserta, mengurus lokasi kegiatan, mengumpulkan dana dan sebagainya terkadang cuman satu dua orang yang terlibat penuh, yang lainnya saat hari pelaksanaan baru menampakkan diri. Seharusnya persoalan ini jangan lagi terjadi.

Sebab kita akan menghadirkan penjajahan berpikir yang berkepanjangan. Kolektif kolegial itu, saling mengisi dan mendukung satu sama lain, bukan membebankan tugas dan tanggungjawab kepada seseorang saja. Itulah kolektif kolegial bukan kolektif kolonial.

Kepemimpinan kolektif kolegial, hanya dijadikan sebagai pemanis dan penyemangat kepada kader-kader baru. Kolektif kolegial selama ini hanya dalam mulut saja. Beberapa periode saya melihat dan mengamati hal demikian semakin terbukti. Gaya kepemimpinan tersebut hanya utopia ayng tidak kesampaian. Saya mengajak untuk kita mencoba merenungi hal ini. Apalagi pimpinan yang sudah mengambil sumpah dan janji atas nama Allah dan Nabinya. 

Manajemen Organisasi

Semua itu dibutuhkan manajemen organisasi yang baik. Peran pimpinan untuk mengatur seluruh komponen lembaga untuk diperdayakan dan dikembangkan. Dalam dunia manajemen dikenal dengan analsiis SWOT . Seorang pimpinan harus mampu melihat kekuatan, peluang, kelemahan dan yang lainnya untuk diatasi dan dijadikan sebagai pendukung keberhasilan dalam organisasi.

Analisis ini penting untuk dikuasai agar kita mampu mengorganisir sumber daya organisasi yang ada. Selain itu, hal yang di anggap penting juga ialah. Kesadaran kader, kesadaran kolektif kolegial, kesadaran bahwa IMM butuh orang-orang seperti Anda semua untuk memajukan IMM. Perlu adanya paradigma IMM serta bangkitkan nurani intelektual.

Editor: Hanum