Notulensi Kajian Al Ashr Study (6/9/2020)
Bersama Dra. Nadiyah Khalid, M.H.

Berbeda dengan kodrat antara laki-laki dan perempuan yang selamanya tidak berubah karena merupakan fitrah, gender adalah pembagian peran/fungsi antara laki-laki dengan perempuan yang dibuat oleh manusia. Pembagian peran berdasar gender ini bisa jadi berbeda sebab dipengaruhi oleh lingkungan berikut manusia yang ada di lingkungan tersebut.

Kita sebagai umat Islam harus percaya, bahwa Islam adalah agama yang berkeadilan. Kita harus yakin tanpa ada syak sedikitpun bahwa apapun yang berasal dari Islam sangat berkeadilan.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana Islam mengatur peran dan fungsi laki-laki dan perempuan dengan adil? Bagaimana gender itu sendiri dalam perspektif keluarga Islam?

Keadilan antara Laki-laki dan Perempuan

Adil, dengan imbuhan ke-an, menjadi kata benda yang telah diartikan dengan berbagai perspektif. Ada yang mengatakan keadilan adalah mutlak sama rata dan sebanding. Ada pula yang mengatakan keadilan ialah adanya komposisi/perlakuan yang pas tentang sesuatu.

Adapun dalam Islam, beberapa cendekiawan muslim menyebutkan bahwa adil pada dasarnya mengandung pengertian kesamaan, akan tetapi, perbedaan antara laki-laki dan perempuan pun memang ada, namun sifatnya distinction, tidak diskriminatif.

Pada dasarnya, baik distinction maupun diskriminatif sama-sama terkait pembedaan, namun distinction adalah pembedaan yang tidak menyisakan kezhaliman sedikitpun, berbeda dengan diskriminasi yang berujung pada kezhaliman.

Terkait dengan keadilan, ada dua hal yang kerap dianggap tidak adil mengenai pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam, yakni ada firman Allah dalam potongan surah An-Nisa ayat ke 11 “Allah mensyariatkan kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan..”

Dan potongan surah An-Nisa ayat ke 34
“Laki-laki (suami) itu qawwamuun bagi perempuan (istri)..”

Pada potongan ayat ke 11 surah An-Nisa tersebut di atas, laki-laki dilebihkan dalam hak waris yakni dua kali lipat bagian perempuan, kemudian pada potongan ayat ke 34 disebutkan bahwa laki-laki adalah qawwamuun/pemimpin bagi perempuan. Apakah pembedaan ini benar-benar mengandung ketidak adilan?

Laki-laki memang dilebihkan dalam hak waris, namun disebutkan pula bahwa kelebihan tersebut dapat dikaitkan dengan surah An Nisa ayat 34 yang menyebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan tersebab kelebihan yang diberikan Allah kepada mereka, dalam hal ini juga terkait nafkah (dalam rumah tangga).

Lantas, apakah ini berujung pada ketidak-adilan terhadap perempuan maupun laki-laki? Tidak sama sekali. Laki-laki mendapat dua bagian dan berkewajiban memberikan nafkah kepada perempuan (istri dan keluarganya), sedangkan satu bagian yang didapatkan perempuan mutlak menjadi miliknya tanpa kewajiban membaginya kepada suami/keluarganya.

Adapun mengenai kepemimpinan, laki-laki (suami) memang pemimpin dalam rumah tangga. Namun di luar itu, perempuan pun diperbolehkan memimpin.

Keadilan mendasar antara laki-laki dan perempuan yang dikehendaki dalam Islam pada dasarnya tidak berbeda.

Allah berfirman dalam Al-Qur`an surah An-Nahl ayat ke 97
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kemudian, firman Allah pada potongan surah Al-Baqarah ayat ke 197
“..mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…”

Pada dasarnya, Allah tidak membedakan antara laki-laki maupun perempuan. Jika mereka beramal shalih, maka bagi mereka lah balasannya, dan jika mereka bermaksiat, konsekuensi yang didapatkan pun sama. Baik laki-laki (sebagai suami) maupun perempuan (sebagai istri) juga harus saling menjaga satu sama lain, tidak hanya salah satunya. Hanya saja, dalam pelaksanaan peran dan fungsi, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak dan kewajibannya masing-masing.

Ada kondisi di mana laki-laki maupun perempuan memilki tugas dan fungsi yang berbeda, berdasarkan “kavlingan” dan kemampuannya. Dalam konteks berumah tangga misalnya, dalam kaitannya ketika hendak menikah, perempuan perlu wali. Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan yang menikah tanpa wali maka pernikahannya bathil” (HR. Tirmidzi).

Kemudian perempuan juga harus taat pada suami. Namun, bersamaan dengan itu, perempuan menjadi tanggungan/tanggung jawab keluarganya (ayah atau wali nya) sebelum ia menikah, dan setelah menikah seorang suami bertanggungjawab penuh atas keluarganya: istri berikut anak-anaknya, demikianlah adilnya Islam.

Gender yang Berkeadilan dalam Keluarga Islam

Terbentuknya keluarga dalam Islam itu harus melalui pernikahan yang sah. Mewujudkan pernikahan yang sah zhahirnya mudah, yakni dengan akad nikah yang sah. Akad nikah yang sah berasal dari syarat dan rukun nikah yang terpenuhi, dan ini dapat dilakukan dalam hitungan sepersekian detik. Namun, akad nikah yang sah hanyalah gerbang awal menuju terbentuknya keluarga Islam.

Pembentukan keluarga Islam tidak hanya sampai di situ. Sebab, di samping pernikahan yang sah, tujuan pernikahan turut mempengaruhi perjalanan dalam pernikahan untuk mencapai kebahagiaan (dunia – akhirat).

Pernikahan pula hendaknya diisi dengan mengimplementasikan hukum-hukum terkait dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pembentukan keluarga Islam yang sakinah, mawaddah, wa rahmah harus dihiasi dengan nilai-nilai atau norma-norma Qur’ani. Serta harus disadari sepenuhnya bahwa ada konsekuensi dari terikrarnya akad, yakni adanya hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak, baik istri maupun suami dalam rumah tangga sudah diatur sedemikian rupa dan dijelaskan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Bagi istri, di antara kewajiban tersebut adalah taat kepada suaminya.

Akan tetapi, misal suatu waktu sang istri meminta izin untuk menuntut ilmu, namun dilarang oleh suami dengan alasan ranah peran istri hanyalah dalam persoalan domestik: dapur, sumur, kasur, sementara urusan publik hanya tugas suami, maka ini lah salah satu bentuk gender yang tidak berkeadilan. Seakan perempuan diletakkan lebih rendah dari laki-laki.

Hal serupa juga didapati pada pendidikan anak, apabila pendidikan untuk anak laki-laki diutamakan dibanding pendidikan bagi anak perempuan dengan alasan bahwa laki-laki kelak akan memimpin. Dalam hal ini, apakah perempuan sama sekali tak mendapatkan porsi untuk memimpin? Jika demikian, maka apabila suatu waktu sang suami pergi untuk suatu keperluan, satu minggu saja, anaknya akan jadi apa dengan kondisi perempuan (istri) yang “tidak berpendidikan” untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya?

Sejatinya, perempuan juga memiliki porsi kemepimpinan, bahkan dalam rumah tangga. Ketika laki-laki memimpin rumah tangga dalam nafkah dan hal lainnya secara umun, perempuan sebagai madrasatul ula bagi anak-anaknya pun harus berpendidikan untuk mencetak generasi yang terdidik pula.

Inilah yang disebutkan di awal sebagai distinction. Pembedaan dalam pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, atau hal ini suami dan istri, yang sama sekali tidak diskriminatif. Perempuan dalam Islam sejajar dengan laki-laki dalam hal amal shalih dan dalam hal memberikan manfaat, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, sekaligus memiliki tupoksi berbeda dalam kehidupan berkeluarga, yang keduanya saling bersinergi, saling melengkapi.

Penyusun & editor: Hanum