Oleh: Hanum Nasution

Aliran Sungai Amandit, lika-liku jalan aspal silih dengan bebatuan, hingga tebing-tebing tinggi Kecamatan Padang Batung, Hulu Sungai Selatan. Dari Desa Batu Laki sampai Desa Durian Rabung. Menjadi saksi atas kekayaan jiwa dan sosial masyarakat setempat.

Seorang bijak berkata, “Tidaklah Allah menetapkan suatu tujuan, tanpa menjadikan sebab-sebabnya.” Rupanya, musibah kami hari itu menjadi sebab bagi kami untuk dipertemukan dengan orang-orang baik. Bahkan tak sekedar temu, melainkan paut jiwa yang terjadi seketika.

Baca Juga: Entitas Manusia dalam Tri Kompetensi Dasar IMM

Smartphone kami dalam genggaman—dengan spesifikasi menengah ke atas. Uang pegangan kami jika dikumpulkan barangkali cukup untuk hidup sebulan. Namun, semua itu menjadi tidak begitu berarti, ketika nahas menyapa di tengah hutan dan jalanan yang sepi. Tanpa jaringan. Tanpa apapun yang bisa dibeli dengan cuan.

Bagian ini yang mungkin menjadi salah satu tujuan-Nya, bahwa dunia dan seisinya bisa menjadi benar-benar tidak lebih berarti dari sehelai sayap nyamuk. Bahwa harta, tahta, wanita maupun pria: kekayaan dunia, bisa menjadi tidak memiliki nilai apa-apa tanpa kekayaan jiwa manusianya.

Saat kendaraan yang kami gunakan bermasalah, benar-benar berbahaya bahkan sekedar untuk dinyalakan, pertolongan Allah sungguh dekat. Sama sekali tidak kenal apalagi berkerabat, tapi orang-orang di sana sudah menunjukkan sikap yang sangat bersahabat.

Mulai dari sekumpulan remaja yang kebetulan lewat. Ingin membantu tapi tak tau harus berbuat apa. Disusul seorang acil yang langsung mencarikan bantuan ke desa terdekat. Hingga singkat cerita, jalan hutan yang tadinya sepi tanpa terasa sudah ramai dengan banyak orang yang menepi, dengan masing-masing rasa simpati hingga empati. Sederhana, tapi kaya.

Baca Juga: Sikap Imam Nawawi pada Penguasa yang Meminta Harta Rakyat

Kami sempat mengira mereka ingin imbalan—sungguh menyesal memiliki pikiran semisal ini, karena ternyata sebaliknya. Tak berhenti di bantuan moril, mereka tambah melebarkan hati kami dengan bantuan materil. Nafas panjang beriring puja puji kesyukuran kami lantunkan, baik benar manusia-manusia pilihan Tuhan.

Tak tertarik mengambil untung, di antara terik matahari dan peluh yang tak sedikit mereka justru bilang: “Tenang, kalian tidak merepotkan, justru kami senang.”

Mereka mengajarkan tentang kemerdekaan. Membenarkan sebuah ucapan tentang merdeka sesungguhnya adalah terbebasnya kita dari hawa nafsu. Merdeka untuk menjadi manusia yang manusia. Semua itu, takkan ada tanpa hati yang luas, jiwa yang kaya raya.