Oleh: Muhammad Yahya*

Momentum sebagai mahasiswa tak ayal ialah jalan pendek penuh perjuangan. Sebuah kesempatan emas yang hanya bisa dirasakan oleh sebagian orang. Maka dari itu, kesempatan menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas angin lalu dalam ruang hampa pilihlah jalan juang yang dapat menjadi bekal dimedan tempur kehidupan.

Ada banyak pilihan tuk membenturkan diri selama menjalani proses menjadi mahasiswa dan salah satunya ialah IMM.

Bersama Ikatan mahasiswa Muhammadiyah kalian akan dibentuk untuk menjadi manusia seutuhnya. Berproses bersama dengan kawan-kawan yang tersebar di seluruh Indonesia. 2021 mari bergabung dengan kami menjadi keluarga besar di IMM, kita jalani hari sebagai mahasiswa menjadi penuh makna.

Melihat Manusia Indonesia melalui Perspektif Muchtar Lubis

Muchtar Lubis adalah seorang Jurnalis dan Pengarang yang telah begitu banyak melahirkan sebuah karya. Ia merupakan tokoh yang memiliki pengaruh besar di negeri ini bahkan hingga kini.

Karya-karyanya yang tertuang dalam ranah sastra selalu mampu menghadirkan sentilan kritik bagi penguasa. Ia sering menggambarkan kondisi masyartakat Indonesia, tak terkecuali disaat penyampaian pidato kebudayaannya pada tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki yang kemudian dituangkan kedalam sebuah buku berjudul “manusia Indonesia”.

Baca Juga: Keadilan Gender dalam Perspektif Keluarga Islam

Secara lisan ia pernah menyebutkan enam ciri manusia Indonesia. Meliputi hypocrite alias munafik (1), enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya (2), berjiwa feodal (3), percaya takhayul (4), artistik (5), dan berwatak lemah (6).

Betapa tajamnya isi yang disampaikan oleh beliau, dan ini merupakan suatu kritik massal kepada semua pihak dan golongan, terkhusus bagi penguasa yang paling bertanggung jawab atas keadaan masyarakat Indonesia.

Upaya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Melahirkan Manusia Seutuhnya

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi kader selalu mengupayakan untuk membentuk pribadi yang berlandaskan Al-Qur’an, berwawasan keilmuan yang luas serta memiliki empati terhadap sesama. Mengusahakan membangun karakter manusia yang seutuhnya.

Hal ini tidak lain merupakan perwujudan dari persyarikatan Muhammadiyah yang turut berjuang membantu Indonesia menciptakan masyarakat Madani.

Tri Kompetensi Dasar sebagai Ideologi IMM

Perlu disadari bersama bahwa bukan hanya warna merah maroon yang menjadi identitas dari pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, namun tri kompetensi dasar yakni Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas juga melekat ketika kita menyebutkan tentang IMM. Tri kompetensi dasar ini merupakan salah satu ideologi yang menjadi komponen penyusun puzzle IMM itu sendiri.

Sebagai seorang mahasiswa terutama kader IMM pasti telah mengetahui makna dari ketiga rangkai kata dari tri kompetensi ini. kompetensi religiusitas (kredo dan ritus), kompetensi intelektualitas (kemahasiswaan, berpikir logis, kritis), dan kompetensi humanitas (kemanusiaan, advokasi dan pemberdayaan).

Selain itu, saya ingin menyampaikan satu pandangan dari sisi lain yang boleh jadi termaktub di dalam Tri Kompetensi Dasar IMM bahwa apa yang terkandung di dalamnya sejalan dengan apa yang menjadi hakikat hidup manusia, suatu entitas manusia.

Entitas Manusia dalam Tri Kompetensi dasar IMM

Bila kita telisik lebih dalam, hal yang mutlak ada dalam diri manusia atau lebih tepatnya seorang muslim ada tiga. Pertama manusia sebagai Hamba Allah, kedua manusia sebagai makhluk berpikir, lalu yang ketiga ialah manusia sebagai mahluk sosial.

Baca Juga: Malik Fadjar: Dari Muhammadiyah untuk Indonesia

Ketiga hal ini jika kita uraikan secara berurutan masing-masingnya merupakan antiturunan dari tri kompetensi dasar IMM.

Saya yakin perumusan ideologi IMM yang telah diperdebatkan dengan sangat alot oleh peletak dasar ideologi IMM merupakan suatu bentuk yang telah disepakati bersama. Dialektika para pemikir tengah menghasilkan sesuatu yang menjadi corak pergerakan IMM itu sendiri. Sehingga, kini setelah 57 tahun kelahirannya IMM dapat terus menunjukkan eksistensinya dengan pondasi yang kuat.

Menjadi IMM adalah Menjadi Manusia Seutuhnya

Menjadi seorang kader IMM juga berarti menjadi manusia, menjadi seorang muslim yang manusia. Menjadi manusia yang mampu menafsirkan dirinya tuk pantas disebut manusia.

Ketika ber-IMM kita mencoba tuk menjadi manusia seutuhnya, manusia yang senantiasa berkhidmat dalam Islam, manusia yang selalu gandrung akan ilmu pengetahuan, dan manusia yang selalu siap sedia membantu sesama dalam hal kemanusiaan.

Kedalaman dan keluasan berpikir oleh para pendahulu terkhusus oleh para peletak dasar ideologi IMM telah mewariskan suatu nilai luhur bagi para kader di masa depannya.

Baca Juga: Teologi QS. Al-Qalam: Sebagai Bentuk Cinta kepada Nabi

Suatu nilai yang mengisyaratkan bahwa ber-IMM adalah berproses menjadi manusia seutuhnya. Hal-hal yang terkandung dalam Tri Kompetensi Dasar ini tak lain ialah turunan dari hakikat hidup manusia itu sendiri.

Kader-kader IMM harus paham mengenai agama, unggul perihal wawasan, dan terdepan dalam aksi kemanusiaan. IMM bukan tempat orang-orang baik tapi IMM adalah tempat untuk orang-orang yang ingin menjadi lebih baik. Mari berproses menjadi manusia seutuhnya di IMM, IMM jaya.

*Ketua Umum PC IMM Kota Banjarbaru

Editor: Hanum