Oleh: Ahmad Tsaaqib

Setiap manusia dalam kehidupannya tanpa disadari sangat bergantung dengan yang namanya cinta. Apapun dimensi kehidupan kita baik dalam agama, pekerjaan, keluarga, ataupun lingkungan masyarakat, semuanya selalu kita kaitkan dengan cinta. Ternyata cinta tersebut sangat berperan dalam kehidupan kita tanpa disadari secara utuh.

Misalnya ketika beribadah dengan sujud kepada Tuhan yang kita yakini, maka kita juga memerlukan cinta agar sujud tadi tidak berujung bosan. Di samping itu, para pendakwah atau pemuka agama dalam memberikan ceramah juga tidak sedikit dengan membawakan tema berkaitan dengan cinta.

Kemudian ketika bekerja kita juga membutuhkan cinta, karena jika tidak akan berpengaruh pada prestasi dan kinerja kita. Apalagi jika berhubungan dengan keluarga dan masyarakat tentu cinta selalu hadir dalam seluk-beluknya.

Tetapi, mengapa harus cinta? Apa sebenarnya hakikat cinta itu sehingga dia bisa menjadi dominan untuk berperan dalam kehidupan umat manusia bahkan mungkin sepanjang sejarah umat manusia itu hidup?

Memang kehidupan ini layaknya sebuah orchestra besar atau sebuah dramatical kehidupan dengan beragam peran dan tugas masing-masing. Namun, tetap ada bedanya karena dalam kehidupan nyata tentu banyak sekali hal misterius yang belum kita ketahui bersama, sedangkan drama dipanggung sudah memiliki naskah dan sebagai pemain kita sudah mengerti alur cerita.

Bayangkan bahwa selama ini ada banyak peran yang dimainkan cinta yang nyatanya mempengaruhi kehidupan kita. Cinta sendiri masih menjadi abstrak yang belum mampu digambarkan secara komprehensif untuk mengetahui hakikatnya. Bahkan dimulai dari kita bertanya apakah cinta itu merupakan dzat yang sendiri atau pergumulan dari nafsu dan nalar manusia, dan apakah cinta itu berada di dalam diri manusia atau berada diluar dari diri manusia.

Baca Juga: Mencintai Keadaan

Kita juga sering bertanya apakah cinta ini berupa anugerah Tuhan kepada manusia ataukah bisikan setan yang kemudian menjeremuskan manusia pada hal yang tidak baik. Karena dengan cinta seorang akan sangat mudah bersujud kepada Tuhannya, sebaliknya seseorang juga dengan mudahnya membunuh orang lain ketika menyakiti orang yang dia cintai.

Cinta juga selalu didengungkan dalam dunia keilmuan dan juga seni, baik itu hasil karya penelitian ataupun semisal film, puisi, dan lagu dari sebuah karya seni, yang semua itu tidak lepas dengan rasa cinta atau berkaitan dengan cinta.

Maka dari itu, sangatlah penting untuk menyadari bahwa apakah selama ini dalam hidup kita, cinta bermain dan berperan sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk dan merugikan kita.

Ada baiknya jika kita mengetahui sedikit mengenai cinta, seperti misalnya menurut Plato bahwa cinta itu adalah sesuatu yang menggerakkan bagi setiap jiwa manusia dalam perjalanan atau pengembaraan kehidupannya menuju pada Sang Ideal, karena di sanalah jiwa manusia yang abadi itu berasal.

Dari penjelasan tersebut, cinta memiliki peran yang positif yaitu sebagai sebuah kekuatan untuk menggerakkan jiwa hingga menjadi manusia yang terbaik untuk menemukan hal yang terbaik pula dalam hidupnya.

Tetapi, jika kita perhatikan orang yang kemudian terjebak dengan rasa cinta tidak semua mereka dapat mengarahkan hidupnya menemukan hal yang baik, karena ada banyak orang yang mengakhirkan hidupnya dengan tragis hanya karena cinta, ataupun lahirnya pertengkaran yang kuat hanya karena kekecewaan atas nama cinta. Tidak sedikit orang yang tidak memiliki arah kehidupan jika dia terjebak dalam rasa cinta tersebut, lebih banyak memikirkan siapa yang dia cintai ketimbang nasib hidupnya mendatang.

Baca Juga: “Saya Berpikir Maka Saya Ada – Descartes”

Kemudian menurut Paul Tillich ketika menjelaskan cinta bahwa pertama-tama dia melihat cinta itu sebagai kekuasaan yang menggerakkan kehidupan. Cinta juga merupakan sesuatu yang mengikat dan mempersatukan antara sesuatu yang “ada” dengan “ada” lainnya yang semulanya terpisah. Cinta bagaikan medan magnet yang punya kekuatan untuk menarik segala sesuatu yang ada, yang diyakini segala sesuatu itu juga berasal dari cinta. Pada hakikatnya cinta itu juga satu tetapi memiliki sifat yang beragam.

Dari sini kita bisa memahami bahwa cinta itu memang merupakan pondasi kehidupan kita, sehingga wajar jika seluruh dimensi kita tidak lepas dengan cinta. Bahkan kehidupan ini menjadi satu ikatan yang kuat jika adanya cinta.

Persoalannya adalah ketika adanya sisi paradoksial dalam hidup ketika berada di ruang cinta. Setiap apa yang kita lakukan atas nama cinta, siapa yang lebih berperan di sana, apakah cinta yang mengatur kita, ataukah kita yang mengatur cinta?

Ketika manusia mengatakan bahwa dia mencintai sesuatu dengan alasan dan argumennya. Tetapi ketika terjebak dalam suasana cinta, maka manusia tidak bisa melakukan apa-apa dan mengikuti kemauannya cinta.

Kemudian, jika manusia terjebak dalam ruang cinta tersebut maka sebetulnya siapa yang berkuasa atas dirinya, padahal manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya untuk mengatur dan menentukan pilihan.

Tetapi hal tersebut begitu sulit ketika tenggelam di samudera cinta. Mereka yang menjadi korban atas kuasa cinta hanya tersenyum dan berjalan layaknya mayat hidup yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.

Apakah betul keberadaan cinta mengakibatkan diri manusia menjadi lemah, padahal kita sering mendengar ungkapan bahwa cinta itu bukan mematikan tetapi menghidupkan, bukan pula melemahkan tetapi menguatkan. Saya tidak mengerti mengapa dalam implementasi cinta tidak sejalan dengan alam pikiran kita tentang cinta.

Menarik jika kita perhatikan penjelasan dari Gabriel Marcel bahwa memahami cinta adalah sebuah kemustahilan. Tidak mungkin manusia dapat memahami cinta, karena cinta bukanlah sebuah objek yang mudah untuk dikaji. Cinta itu adalah misteri, karena misteri maka tentunya cinta tersebut hanya dapat dipahami oleh pihak-pihak yang sedang berada dalam pelukan cinta, karena cinta adalah pengalaman yang sangat personal.

Namun, Gabriel Marcel memberikan secercah pandangan yang baik karena menurut dia cinta tersebut merupakan suatu tindakan yang berasal dari manusia yang merdeka sehingga dengan kemerdekaannya dapat memutuskan untuk mencintai orang lain.

Baca Juga: Kemerdekaan yang Dikenang

Kemudian berangkat dari penjelasan tersebut kita mengetahui bahwa cinta itu aktif, dan cinta itu adalah hasil tindakan bagi orang yang menyadari akan kemerdekaan hidupnya. Dalam arti lain bahwa dia telah selesai dengan dirinya, mencintai tidak hanya dibatasi pada sesama manusia atau hanya berbeda jenis kelamin, mencintai pada siapapun dan apapun.

Oleh karena itu, penting kita menyadari seberapa jauh kita mengenal cinta sebagai pengalaman personal kita yang lahir bukan atas perbudakan tapi dengan jiwa yang merdeka. Cinta seharusnya berperan positif bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia karena ia adalah kekuatan yang mendorong dan mempersatukan kita semuanya.

Adapun orang yang merugi karena cinta, bukanlah cinta yang salah, tetapi mereka yang belum mampu memerdekakan diri dan jiwanya yang seharusnya telah selesai dengan dirinya dan mampu memberikan cinta pada yang lainnya.

Kemudian juga, cinta tidak bisa didukung dengan unsur yang negatif karena akan berpimplikasi pada hal yang negatif pula sehingga tidak pantas cinta dikaitkan dengan keinginan memiliki dan menguasai, karena cinta adalah memberi bukan mengambil.

Editor: Hanum