oleh: Muhammad Yahya

Kita juga akan lebih sering menyebut nama Tuhan saat berada di alam bebas, maka alam
sudah semestinya menjadi suatu destinasi spiritual yang harus dikunjungi oleh setiap muslim.
Selain tempat ibadah tentunya.

Perjalanan spiritual di Alam

Di Alam, Kita belajar bagaimana tuk merendah di ketinggian tanah, mencoba tuk memyembah
Sang Kuasa dalam keadan yang tak biasa. Lagi pula kita menjelajah alam bukan untuk
menaklukkannya kita hanya menyapanya saja, menyapa buaian pohon rindang dengan tangan
terbuka, bercengkerama dengan riak air yang membasuh penat,
sebab di dataran Kota sudah terlalu banyak polusi dan informasi.
Islam hadir di Bumi ini tentunya bukan hanya untuk mengatur segala perkara yang
menghubungkan manusia dengan manusia, melainkan juga hadir tuk mengajarkan kita agar
bisa merawat semesta.

Bumi kita sudah tua

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah
menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)
Pada ayat diatas telah dijelaskan secara gamblang bahwasanya bukan mahluk lain yang
menyebabkan kerusakan di Bumi kita ini, tetapi manusia lah yang menjadi segala dalang dibalik
pelbagai kerusakan yang terjadi pada lingkungan kita.
Para ahli memperhitungkan umur Bumi saat ini telah mencapai 4,54 miliar tahun. Namun, dari
angka ini pun masih ada rentang kesalahan penghitungan hingga 50 juta tahun. Adapun
sebagai perbandingannya, galaksi Bima Sakti yang memuat tata surya kita diperkirakan
memiliki usia 13,2 miliar tahun, sedangkan alam semesta sendiri berumur 13,8 miliar tahun.
Dari angka miliaran tahun tersebut, nenek moyang manusia menurut para ilmuwan hidup
sekitar 250 ribu tahun lalu, atau sekitar 100 ribu tahun lebih cepat dari hasil penelitian
sebelumnya. Artinya jika kita bandingkan lagi manusia menginjakkan kaki pertama kali di Bumi
ini saat usia Bumi sudah 4 Miliar tahun lebih. Dan hanya membutuhkan waktu yang sekejap
bagi manusia untuk menguasai palnet ini.

Transfer Uang Beda No Rekening Tanpa Biaya Admin, Begini Caranya

Pelajaran politis di Hutan

Saya rasa, manusia-manusia yang sombong atas perilakunya dan perangainya yang
membenarkan penindasan atas semesta mesti dibawa menginap di alam bebas, dengan
menanggalkan segala macam teknologi dan alat portabel modern tuk bisa menikmati sapaan
alam nan asri.
Mereka perlu merasakan rasanya menyusuri tapak demi tapak karpet alami di hutan, beradu
basah antara keringat dengan embun, menanggalkan segala ego dan saling kerjasama antar
mahluk. Menjalin komunikasi yang intens dengan penghuni rimba, bertegur sapa dengan
tokoh-tokoh flora faunanya.
Hingga sampailah pada kesimpulan bahwasanya kita dilarang berjalan di muka bumi ini dengan
dagu menengadah keatas tanpa memperhatikan lingkungan sekitar termasuk hewan dan
tumbuhan.

Mengenalkan Lazismu di Balangan


Kesalehan Lingkungan
Dan benar saja kiranya jika Jendral Soedirman mendidik murid-muridnya di alam yang
kemudian kita tahu mereka mampu bergerilya memenangkan peperangan melawan Tentara
Belanda dengan senjata modernnya. Sebab didikan di Alam bukan hanya tentang hobi
jalan-jalan, melainkan juga membangun pribadi yang tangguh dan tak gentar menghadapi
tantangan dengan bertamengkan ketakwaan terhadap Tuhan.
Kesalehan tidak berhenti sampai pada diri pribadi, tetapi kesalehan juga harus turut menyertai
pada lingkungan sosial serta alam semesta

Editor: Pebriyandi