Oleh: Mukhtara Rama Affandi*

Saya ingat betul ketika pertama kali membeli beberapa macam buku dari salah satu toko buku online yang ada di instagram. Ketika itu saya masih hangat-hangatnya menjadi mahasiswa baru, membeli buku lalu membacanya menjadi semacam akibat dari status saya sebagai mahasiswa program studi ilmu politik.

Saat orang tua di rumah bertanya buku-buku apa itu? Buku-buku untuk kuliah sahut saya sama sekali tak saya sebutkan satu per satu judulnya. Padahal kalau dilihat satu persatu tidak semua buku yang saya beli berkaitan langsung dengan mata kuliah yang akan saya dapatkan waktu itu.

Saat ospek mahasiswa baru ada saja senior yang mendekati lalu berbagi, berdiskusi tentang buku yang ia baca. Saat mulai masuk kuliah ada saja dosen yang gemar sekali bertanya “sudah membaca apa hari ini?”.  Hal-hal tersebut yang membuat saya saat itu terdorong untuk menyalakan minat baca.

Menumbuhkan minat untuk tahu lebih banyak hal lewat membaca. Mengisi ruang-ruang dalam pikiran agar tak serta merta selalu bicara tanpa diimbangi dengan pengetahuan. Alih-alih disebut sebagai orang cerdas. 

Di lingkungan organisasi khususnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah, membaca merupakan sebuah panggilan yang mau tidak mau ataupun suka tidak suka harus dilakukan. Paling tidak untuk kebutuhan organisasi itu sendiri.

Hampir tak ada satupun kegiatan di pimpinan yang tak melewati proses membaca sebelumnya. Terutama dalam membuat konsep pelatihan atau membuat narasi untuk keperluan momen musyawarah.

Baca Juga : Syaikhul Islam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Kalau dibandingkan teman-teman saya di kampus yang rajin sekali diskusi, bahkan sempat untuk sesekali buat propaganda kritik kebijakan kampus dan pemerintah mungkin jumlah buku yang saya baca belum seberapa alias belum banyak.

Lebih tidak seberapa dengan teman teman saya di kampus maupun organisasi yang mengabdikan dirinya menjadi calon ‘akademisi’ atau memang literally ‘penulis’. Baca, lalu kirim opini ke media. Baca, lalu publikasi di blog pribadi. Tapi saya merasa perlu berjuang untuk tetap menjaga api minat baca itu selalu hadir.  

Apa yang kadang saya jalani hari ini sebagai seseorang yang juga aktif menjadi master of ceremony acara-acara hiburan dan sebagai project manager di sebuah komunitas stand up comedy mungkin secara kasat mata tak perlu perlu amat untuk menjadi seorang pembaca. Apalagi dengan tema-tema yang serius. Membaca dengan dunia ‘hiburan’ yang saya geluti terlihat tak punya hubungan langsung. Nyatanya tidak begitu. Semua orang dengan profesi atau status apapun di dunia ini rasanya perlu membaca. Membaca apa saja.

***

Dalam konteks pergaulan sehari-hari yang lintas usia, profesi, budaya bahkan agama ternyata ‘membaca’ buat saya jadi perlu. Membaca memudahkan saya bergaul, membaca membuat saya mudah diterima orang lain, membaca buat saya berfikir dan belajar menyerap berbagai ‘nilai’ tak terlihat namun terasa untuk saya coba terapkan kepada orang disekitar.  

Apalah saya tanpa membaca yang sampai SMP punya sikap sering menyalahkan orang lain, mudah marah, tak terima perbedaan, ekslusif, dan egois. Mungkin saya akan terus-terusan menjadi makhluk yang minta dimengerti orang lain serta anti kritik, lalu akhirnya saya tak merasakan bahagianya berkawan dengan banyak orang seperti sekarang. 

***

Apa jadinya saya ketika banyak momen politik berujung ribut-ribut jika tak membaca buku-buku menggembirakan Emha Ainun Nadjib, mengevaluasi diri lewat buku Al Ghazzali, dirasuki filsafat politik biar belajar menangkap fenomena dan dinamika politik, belajar bergaul dari berbagai buku akademisi Muhammadiyah. Mungkin saja saya sudah jadi kaum merugi karena terlibat perdebatan keruh dan tak perlu dalam banyak ruang pergaulan termasuk media sosial kala itu.

Karena buat saya membaca ialah cara paling mahir untuk belajar jadi orang yang terbuka terhadap perbedaan. Masuk, menyelam ke dalam berbagai pemikiran orang lain. Lewat membaca artinya secara bersamaan siap melakukan perdebatan batin antara setuju atau tidak setuju.

Antara merasa yang dilakukan sudah benar atau terpukul, lalu terdiam, melanjutkan tiap baris bacaan sambil bercermin kesalahan. Antara mempertahankan prinsip  yang sudah lama terbangun dipikiran, atau merelakan pikiran itu rubuh oleh susunan pemikiran si penulis yang nyatanya jauh lebih punya dasar dan rasional. Intinya proses berfikir.

Bagi saya, sesederhana itu memaknai pentingnya membaca. Tak perlu bercita-cita jadi akademisi bergelar. Tak perlu nunggu jadi aktivis macam ketua umum organisasi, presiden mahasiswa, pengisi seminar, pemantik diskusi, penulis berita, atau membaca juga tak selalu harus berujung dengan menjadi orator demonstrasi mahasiswa.

Baca saja, untuk tetap bergembira merayakan kemerdekaan pikiran, keberagaman, keberkawanan, toleransi.  Baca saja, buat saya yang penting belajar mengenal diri sendiri, belajar memahami orang lain, dan belajar menganalisa lingkungan sekitar.

*Kabid. Advokasi PW IPM Banten