Oleh : Ahmad Tsaaqib

Sebuah Kitab Tafsir kontemporer yang ditulis oleh Muhammad Asad, seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam pada tahun 1926 sebagai pengembara berbagai benua dan khususnya Timur Tengah. Muhammad Asad belajar bahasa Arab langsung dengan suku Badui dan juga memiliki hubungan dekat dengan Ibn Saud.

Lahirnya Kitab Tafsir tersebut dilatar belakangi kegelisahan Muhammad Asad terhadap Islamofobia orang Eropa yang disebabkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam dikarenakan terjemah dan penafsiran al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang memiliki kekeliruan.

Metodologi Kitab Tafsir tersebut menggunakan sistematika mushafi yaitu menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan posisi mushaf yang ada (surat al-Fatihah-surat An-Nas) dengan penafsiran yang ringkas dan mudah dipahami. Muhammad Asad menafsirkan al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Inggris untuk menjawab persoalan yang melatarbelakangi Kitab Tafsirnya.

Akan tetapi, Kitab tersebut sudah bisa dibaca bagi orang Indonesia yang tidak bisa memahami bahasa Inggris dari terbitan Mizan dengan 3 jilid. Pada cover Kitab Tafsir tersebut tertulis tafsir al-Qur’an bagi orang-orang yang berpikir yang menunjukkan perbedaan dari kitab tafsir klasik lainnya.

Salah satu penjelasan yang menarik dalam Kitab Tafsir tersebut ketika memaknai kalimat “Ghaib” pada ayat ketiga dalam surat al-Baqarah. Pemaknaan ulama klasik tentang ghaib selalu berkaitan dengan sesuatu yang mistik dan tidak terlihat dalam penjelasan yang lain seperti berbeda dunia dari dunia manusia.

Penjelasan Muhammad Asad terhadap kalimat “ghaib” sangat menjunjung tinggi nalar dan pengetahuan rasional manusia, bahwa pada dasarnya “Ghaib” sesuatu yang supra-rasional yaitu melampaui kekuatan akal dan indrawi manusia. Hal tersebut memberikan interpretasi baru dalam sejarah perjalanan penafsiran al-Qur’an dengan spirit rasionalitas ketimbang hal-hal yang sulit dipahami sebagaimana penjelasan terdahulu, pemaknaan ghaib yang menggambarkan sesuatu yang jauh dengan kita dan berada diluar sana yang kita tidak tahu dimana pastinya.

Padahal dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah lebih dekat dari urat nadi manusia. Hal inilah yang membuat Haidar Bagir dalam pengantarnya sangat berharap dan mendambakan adanya suatu karya tafsir al-Qur’an yang ringkas—sehingga handy (praktis) dan dapat membantu kita memahami isi al-Qur’an kapan dan dimana saja. Tetapi pada saat yang sama, dapat menyampaikan kepada kita makna Kitab Suci ini secara masuk akal, serta relevan dengan konteks kekinian kita.

Disamping itu, hal yang menariknya kita bisa temukan dalam tafsirnya ketika memaknai kalimat “Ya Ayyuhalladzi na ‘amanu” yang sering diterjemahkan wahai orang-orang yang beriman, tetapi Muhammad Asad memaknainya dengan orang-orang yang telah meraih iman, bahwa ingin mengatakan setiap orang dalam beragama selalu berada dalam proses keberimanan yang memiliki kesan adanya proses dan perjuangan dalam mendapatkan iman tersebut.

kemudian seperti kalimat taqwa atau muttaqin yang sering dimaknai dengan orang-orang yang takut kepada Allah. Menurut Muhammad Asad makna tersebut kurang memadai, sehingga pemaknaannya yaitu kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini.

Menurut Haidar Bagir kelebihan dari Kitab Tafsir tersebut yaitu terletak pada penelitian yang dilakukannya bertahun-tahun dan mendalam atas berbagai tafsir tradisional, hadits, sejarah Rasul, bahkan juga Bible. Muhammad Asad juga sejak kecil sudah mempelajari kitab-kitab Yahudi, Misnah, Gemara, Targum, dan yang lainnya dalam bahasa Ibrani. Bukan saja dia melakukan penelitian yang mendalam, penafsir yang awalnya berprofesi sebagai wartawan ini bahkan sampai sejauh melakukan penelitian bahasa Arab di kalangan suku Badui di Semenanjung Arabia.

Khususnya, suku-suku yang tinggal di wilayah Arabia Tengah dan Timur, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah saw, yakni ketika al-Qur’an diturunkan dan dipahami pada awalnya.

Kemudian kelebihan yang lain menurut Haidar Bagir pada Kitab Tafsir tersebut bahwa Muhammad Asad berupaya sedapat mungkin untuk bersikap rasional dalam membaca dan memahami ayat-ayat al-Qur’an. Akan tetapi, hal ini tidak membuat Muhammad Asad menjadi seorang rasionalis ekstrim sehingga sangat cocok khususnya para pemuda untuk membaca karya luar biasa tersebut.

persoalan minat baca yang rendah apalagi bacaan seperti Kitab Tafsir yang cenderung membosankan dan tidak menarik bagi para pemuda, sehingga banyak dari kita semua yang tidak memahami dan mengkaji ayat al-Qur’an sehingga hanya menjadi bacaan dan itupun pada moment-moment khusus saja. Padahal Qur’an hadir bagi kita semua bukan hanya sebagai bacaan saja, tetapi menjadi pedoman dan pembimbing hidup umat manusia dalam mengatasi segala persoalan kehidupan.

Carut-marut kehidupan saat ini disebabkan lunturnya semangat mengaji Qur’an yang hakiki, karena Qur’an hanya dijadikan bacaan jampi-jampi, mantra magis, dan bahkan jimat. Qur’an hanya menjadi asesoris dilemari kaca dalam rumah kita yang sewaktu-waktu dibaca tanpa mengerti dan memahami makna yang terkandung didalamnya.

Qur’an harusnya menjadi ruh penggerak perubahan sosial untuk menjadi yang lebih baik dan berkemajuan, mengedepankan spirit berlomba-lomba untuk unggul dalam setiap aspek kebaikan. Kemudian Qur’an juga harus menjadi aspek utama dalam memutuskan kehidupan kita dalam persoalan apapun, tetapi saat ini kita jarang kembali kepada al-Qur’an atau Kitab Suci tersebut hanya sampai pada tenggorokan  kita sebagaimana Rasulullah saw pernah mengingatkan bahwa ada disuatu zaman nanti orang-orang hanya membaca al-Qur’an sampai pada tenggorokannya saja, tidak sampai pada hatinya.

Maka dari itu, tugas kita semua menjadikan al-Qur’an sebagai sumber mata air pengetahuan dan wacana kehidupan untuk dipelajari dan dikaji sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan bersama. Oleh karenanya, Al-Ashr Study akan berperan aktif untuk menghidupkan literasi tafsir agar para kader dan umat Islam pada umumnya dapat berpegang teguh kepada Tali Allah tersebut. Insya Allah ngaji tafsir akan terus dipublish setiap pekannya yang dimulai dari surat al-Fatihah dan seterusnya. Semoga dengan gerakan kecil ini membuat kita semakin cinta dengan Qur’an dan menjadikannya sebagai sumber kehidupan kita semua.

Editor : Redaksi al-ashr.id